Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Samarinda.

Kemajuan suatu sekolah dapat ditinjau dari bagaimana sekolah mengelola komponen-komponen di dalamnya, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perkembangan kemajuan sekolah dan pada proses kegiatan yang berlangsung di sekolah.

Fasilitas merupakan sesuatu yang dapat mempermudah dalam melakukan kegiatan. Adanya fasilitas yang menunjang kegiatan, maka tujuan kegiatan tersebut akan dapat terbantu dalam pencapaiannya.

Dalam proses belajar mengajar, fasilitas sekolah sangat berperan penting untuk mempermudah keberlangsungan kegiatan. Fasilitas yang berpengaruh langsung pada kegiatan pendidikan sering dikenal dengan sarana pendidikan

Salah satu contoh fasilitas pendidikan yang harus dipenuhi oleh sekolah yaitu perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan tempat di mana pendidikan maupun peserta didik dapat mencari wawasan yang lebih luas karena di dalamnya tersedia bahan pustaka yang dapat membantu menambah pemahaman atau referensi bagi pendidik dan khususnya bagi peserta didik.

Oleh karena Komisi IV DPRD Kota Samarinda mendorong Dinas Pendidikan Kota Samarinda agar dapat segera memenuhi fasilitas perpustakaan di sekolah-sekolah untuk menunjang kompetensi peserta didik Kota Samarinda.

Dikatakan oleh Deni Hakim Anwar selaku Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, pentingnya fasilitas perpustakaan karena buku adalah jendela dunia untuk menunjang generasi yang akan datang.

Ia beberapa kali menerima informasi bahwa masih ada beberapa sekolah yang belum memiliki fasilitas perpustakaan, karena pihaknya (Komisi IV) mendorong sekolah – sekolah terutama di kota Samarinda agar meningkatkan literasi para Siswa.

“Kita mendorong bahwa, kita tidak membandingkan sekolah-sekolah negeri ini mungkin belum banyak memiliki perpustakaan, jendela dunia (buku) ada disana, kita harapkan mungkin kita gak usah kita penuhi 48 sekolah yang ada di samarinda, misal kita patokan dari SD SMP tapi minimal kita cicil lah,” ucapnya, Kamis, (5/1/2023).

Permasalahan yang sering terjadi di lapangan yaitu ketidaklengkapan bahan pustaka yang disediakan. Sekolah kurang memprioritaskan mengenai kelengkapan bahan pustaka, khususnya untuk bahan pustaka berupa buku pengayaan baik fiksi maupun non fiksi sesuai dengan jumlah rombongan belajar, padahal ini dapat menganggu proses pembelajaran karena wawasan peserta didik hanya terbatas pada bahan pustaka yang ada, sedangkan ilmu itu sendiri terus berkembang.

“Kita bertahap Supaya Kita ingin anak anak generasi kita mempunyai literasi yang luas punya pengetahuan yang banyak dengan didukung dengan fasilitas,” ungkapnya.

Pasalnya Anggota Komisi IV tersebut menilai, ketika satu sekolahan tidak memiliki perpustakaan, maka peserta didik juga akan kurang minat literasinya.

“Jika tidak ada perpustakaan, mereka belajar dimana, memang sekarang zaman sudah canggih, tetapi berbeda ketika kita belajar lewat digital dengan di buku itu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *