Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Samarinda.
Baru-baru ini Indonesia digemparkan dengan berita viral yang menyangkut persoalan anak-anak. Setelah wabah covid-19 kini dihadapkan dengan ancaman penyakit gagal ginjal akut pada anak-anak yang menyebabkan kematian.

Dikutip dari data Kemenkes RI. Sirup obat batuk yang mengandung paracetamol disinyalir merupakan penyebab kematian 70 anak akibat gagal ginjal akut di Gambia, Afrika Barat. Hal ini disebabkan karena obat dalam sediaan sirup tersebut mengandung dietilen glikol maupun etilen glikol.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan ada 206 kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal pada anak-anak di 20 provinsi Indonesia.

Terkait hal tersebut, Damayanti Anggota Komisi IV DPRD Samarinda yang termasuk dalam bidangnya turut prihatin atas kejadian ini.

Ia mempertanyakan, Obat Sirup yang mengandung Paracetamol ini sudah beredar hampir seluruh apotek yang ada di indonesia, tetapi mengapa baru ketahuan sekarang jika itu membahayakan untuk anak-anak. Hingga menyebabkan gangguan ginjal akut yang disertai kematian.

“Sangat di sayangkan, obat itu sudah dipasarkan sejak lama, tetapi mengapa baru timbul permasalahan seperti ini ketika ada temuan gagal ginjal itu,” ucapnya ditemui saat diruangannya. Kamis, (20/10/22).

Ia juga mempertanyakan kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang kurang pengawasan dalam mengawasi obat-obatan yang notabene dipasarkan untuk anak-anak.

“Pengawasannya BPOM nya kurang maksimal. Kalau saya pribadi sangat disayangkan sekali,” ucapnya.

Terkait langkah yang diambil oleh Komisi IV DPRD Samarinda, ia menuturkan langkah yang diambil kedepannya sesuai dengan instruksi dari pemerintah pusat terkait peredaran obat-obat yang dilarang beredar di Samarinda nantinya.

“Jangan sampai apa yang dihimbaukan oleh pemerintah pusat untuk tidak mendistribusikan obat-obatan ini, ya jangan diedarkan,” tutupnya.

  • RF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *