Bagikan šŸ‘‡

Timesnusantara.com – Samarinda.

Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda Laila Fatihah turut soroti proyek pembangunan Terowongan Gunung Manggah.

Menurutnya, feedback atau timbal balik kepada masyarakat merupakan hal yang terpenting dalam persoalan investasi, seperti pembangunan terowongan. Terlebih dirinya dalam Komisi II membidangi masalah perekonomian.

Ia menilai, pembangunan akan menunjukkan perkembangan yang sejalan dengan berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat.

Tentu dengan adanya pembangunan daerah, akan berkembang dan berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan.

ā€œKalau kita berinvestasi dengan uang yang besar, kan kita berharap feedbacknya apa. Sama halnya kalau kita berinvestasi ke terowongan, secara ekonomi itu apa yang didapat oleh masyarakat Samarinda,ā€ ungkap Lailq Fatihah.

Ia mengakui, penganggaran proyek terowongan yang berada di gunung manggah itu bukan menggunakan dana yang sedikit.

Ia juga menyebutkan biaya yang digelontorkan untuk pembangunan terowongan ini berkisar hampir 400 miliar rupiah.

Dalam bahasa Business-To-Business (B2B), Laila mengakui bahwa dirinya dalam keseharian di DPRD Samarinda terbiasa menggunakan ā€˜otak bisnis’. Dalam artian seluruh hal yang dikeluarkan, harus bisa mendatangkan untung.

ā€œKita ini nganggarkan untuk itu bukan uang kecil loh. Tapi dengan uang yang segitu, Kota Samarinda mendapatkan apa, ini bahasa B2B, kami ini rata-rata di DPRD otaknya bisnis semua,” ucapnya.

Ia menjelaskan, bahwasannya diperlukannya pembangunan ekonomi yang sebagian besar diarahkan kepada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan dan mencapai kemakmuran atau kesejahteraan yang erat kaitannya dengan masalah kemiskinan.

“Kalau memang keluar uang, dapat apa dari yang kita keluarkan, kalau emang bisa kembali modal alhamdulillah. Tapi kalau bisa mendapatkan untung maka lebih baik lagi,ā€ tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *