Timesnusantara.com – Samarinda.
Memasuki tahun 2023, Masyarakat dihebohkan dengan kasus penculikan anak di Samarinda yang akhirnya berhasil ditemukan kembali.
Kemudian baru-baru ini disusul kabar penculikan anak 4 tahun. Kejadiannya di Samarinda Seberang. Namun demikian kabar itu dipastikan hoaks.
Kabar itu beredar melalui grup WhatsApp, termasuk informasi, penculikan anak usia 4 tahun dan diturunkan di Jembatan Mahkota IV kawasan Samarinda Seberang.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sri Puji Astuti menyampaikan, anak merupakan kelompok yang rentan, karena anak belum mampu melindungi diri sendiri dan menggunakan hak-haknya secara mandiri.
“Saat reses kemarin juga sudah saya sampaikan ke para orang tua agar dijaga anaknya, karena kita gak bisa mengharap pemerintah, ungkapnya saat ditemui awak media.
Menurutnya, ada banyak faktor mengapa anak sering menjadi korban penculikan, lemahnya pengawasan orang tua dan orang dewasa menjadi salah satu penyebab anak mudah menjadi korban penculikan.
Selain orang tua, peran masyarakat sekitar juga penting agar anak tidak mudah terpancing oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
Pengawasan yang bagus antara orang tua di rumah, masyarakat di luar rumah dan pihak sekolah ketika anak di sekolah menjadi pagar penting menghindari penculikan anak.
“Sekolah juga perlu membuat aturan yang diperlukan sebagai pengawasan diluar rumah, kalau bisa harus bisa saling berkomunikasi antar orang tua, pihak yang menjemput anak sekolah juga harus kenal,” ucapnya.
Tak dipungkiri, beberapa sekolah yang ada di Kota Samarinda memang sudah menerapkan aturan yang ada. Tetapi masih dirasa perlu tingkatkan kewaspadaan diluar lingkungan rumah.
