Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Kukar. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar), Fida Hurasani, menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi instansinya dalam memperkuat sistem pemadam kebakaran di wilayah Kukar.

Keterbatasan armada dan sumber daya manusia (SDM) menjadi dua hambatan utama yang masih harus diatasi.

Fida menjelaskan bahwa saat ini pihaknya memiliki 9 armada di markas komando (Mako), 2 unit di Pos Patimura, serta masing-masing satu unit di seluruh kecamatan yang telah memiliki pos. Bahkan di beberapa desa yang memiliki lebih dari satu pos, unit tambahan sudah tersedia.

Namun demikian, menurutnya jumlah ini masih belum memadai untuk menjangkau seluruh wilayah secara optimal.

“Untuk total armada, saya punya di Mako ada 9, di Pos Patimura 2, dan di seluruh kecamatan masing-masing ada satu unit. Namun, jumlah ini masih belum mencukupi,” kata Fida, Rabu (4/6/2025).

Dari total 20 kecamatan di Kukar, baru 18 kecamatan yang memiliki pos Damkar. Dua kecamatan lainnya, Muara Wis dan Kota Bangun Darat, masih belum terjangkau. Ia menyebut, keterbatasan anggaran menjadi penghalang utama dalam pengadaan pos baru maupun perekrutan petugas.

“Kalaupun kita punya pos, masalah besar yang perlu diperhatikan adalah SDM, bagaimana kami bisa merekrut dan mengelola penggajian mereka. Anggaran menjadi faktor pembatas yang harus kami hadapi,” ujarnya.

Meski demikian, Fida tetap optimis dan berkomitmen mencari solusi tanpa membebani anggaran. Ia bahkan menyatakan siap memperjuangkan pengadaan alat meski tanpa peningkatan anggaran atau tambahan insentif.

“Saya akan berusaha mencari alat dan SDM tanpa harus menaikkan anggaran atau upah. Insya Allah, kalau saya diam, jalan akan ada saja,” ucapnya dengan yakin.

Fida juga menekankan pentingnya peran relawan dalam mendukung operasional pemadam kebakaran, khususnya di desa-desa. Ia membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat langsung, tanpa beban gaji, dengan dukungan peralatan dari Disdamkarmatan.

Namun tak semua daerah merespons positif. Ia mencontohkan Kembang Janggut, di mana pos dan unit Damkar sudah tersedia, namun respons masyarakat dinilai kurang mendukung.

“Aki dua kali hilang. Kami beli lagi. Tapi masyarakat belum memberikan sambutan yang baik dan belum siap,” ungkapnya.

Walau menghadapi kendala eksternal dan internal, Fida menutup pernyataannya dengan semangat.

“Saya lebih bersyukur jika orangnya ada, walaupun alatnya tidak ada. Biar saya yang berjuang mencari alatnya. Itu lebih membanggakan bagi saya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *