Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Harapan masyarakat Kalimantan Timur untuk melihat berdirinya jembatan penghubung antara Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali menguat. Namun, seperti angin lalu yang datang dan pergi, realisasi proyek besar ini belum juga terlihat wujudnya secara nyata.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan bahwa proyek tersebut sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah pusat. Saat ini, prosesnya masih terhenti pada tahap peninjauan ulang desain oleh kementerian teknis yang berwenang. Sejumlah aspek teknis dinilai belum layak untuk langsung dieksekusi.

“Salah satu persoalan yang muncul adalah tinggi jembatan yang tidak memadai untuk dilalui kapal besar. Ini tentu menjadi kendala bagi aktivitas pelayaran di kawasan Teluk Balikpapan,” ujar Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, Selasa (8/7/2025).

Pemerintah provinsi sebelumnya telah mengirimkan dokumen Detail Engineering Design (DED) secara resmi ke pemerintah pusat. Namun dalam perkembangannya, rancangan awal tersebut harus mengalami perombakan untuk menyesuaikan kebutuhan teknis dan kelayakan lintas transportasi laut.

Permasalahan utama muncul karena tinggi jembatan yang dirancang semula tidak cukup aman dilalui kapal besar. Hal ini menjadi perhatian penting karena kawasan Teluk Balikpapan adalah jalur pelayaran yang aktif. Maka itu, penyesuaian desain dinilai sangat krusial agar proyek ini tidak justru mengganggu lalu lintas laut yang vital.

“Makanya, kita minta agar desain disesuaikan. Salah satu opsi yang sedang dibahas adalah model jembatan buka-tutup seperti yang diterapkan di San Francisco,” sambung Seno, menjelaskan kemungkinan desain baru yang lebih adaptif terhadap jalur laut.

Namun hingga kini, belum ada keputusan final dari pemerintah pusat mengenai model atau bentuk jembatan yang akan digunakan. Ketidakpastian ini membuat banyak pihak bertanya-tanya soal kelanjutan proyek yang sudah lama digaungkan tersebut.

Di tengah penantian panjang itu, masyarakat masih mengandalkan akses darat melalui Jembatan Pulau Balang. Meski cukup membantu, jembatan tersebut belum sepenuhnya menghubungkan pusat Kota Balikpapan dengan kawasan industri strategis seperti Buluminung di PPU.

“Makanya, kita tetap mendorong adanya pembangunan satu jembatan lagi yang bisa menghubungkan secara langsung dari Balikpapan ke PPU,” ujar Seno.

Transportasi laut seperti klotok, speedboat, dan kapal feri masih menjadi andalan sebagian besar masyarakat di kawasan ini. Namun, keberadaan jembatan permanen dipercaya mampu mempercepat arus logistik, efisiensi mobilitas manusia, serta mendongkrak geliat ekonomi daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Menurut Seno, hingga saat ini belum ada jadwal pasti untuk pertemuan lanjutan dengan kementerian terkait. Pemerintah daerah pun berharap agar proyek ini tidak berhenti hanya sebagai retorika dari masa ke masa.

“Apakah model jembatannya akan mengikuti opsi awal, atau ada pendekatan baru, semua itu masih perlu dikaji dan didiskusikan lebih lanjut bersama pemerintah pusat,” pungkasnya. (Adv Diskominfo Kaltim)

Penulis: Rey | Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *