Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUKAR. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai melaksanakan vaksinasi dengue bagi anak-anak sekolah dasar, sebagai langkah baru menghadapi tingginya kasus demam berdarah.

Program ini menargetkan 1.500 siswa dari lima sekolah dasar di Kecamatan Tenggarong.

Vaksinasi tersebut dilakukan secara bertahap, khusus di wilayah yang selama ini mencatat kasus DBD tertinggi. Kukar menjadi daerah pertama di Kaltim yang mulai menggratiskan vaksin dengue bagi anak-anak sekolah.

Asisten III Setkab Kukar, Dafip Haryanto, mengatakan vaksinasi dilakukan setelah sosialisasi menyeluruh kepada para orang tua. Menurutnya, langkah ini sangat penting mengingat tren kasus DBD di Kukar terus meningkat.

“Kita ingin mencegah kematian akibat DBD sejak dini, terutama pada anak-anak. Ini adalah bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap kesehatan warganya,” ujar Dafip, pada Rabu (23/7/2025).

Dinas Kesehatan Kukar menyiapkan 3.000 dosis vaksin, cukup untuk dua kali penyuntikan kepada 1.500 anak.

Vaksinasi digelar di lima SD yang menjadi prioritas berdasarkan sebaran kasus, yakni SDN 001 dan 003 Kelurahan Sukarame, SDN 011 Loa Ipuh, SDN 028 Melayu, dan SDN 037 Rapak Lambur.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kukar, Kusnandar, menjelaskan vaksin ini sebenarnya bersifat pilihan, bukan program wajib. Namun, karena tingginya risiko, Pemkab memutuskan membiayai penuh program ini.

“Biasanya vaksin seperti ini harus bayar sendiri. Tapi karena menyangkut keselamatan anak-anak, kita gratiskan sepenuhnya,” ujar Kusnandar.

Efektivitas vaksin ini dinilai cukup tinggi. Ia menyebut pelaksanaan serupa di Balikpapan berhasil menekan kasus hingga nol. Dari 9.000 anak yang divaksin, tak satu pun dilaporkan terkena DBD.

Itulah yang kemudian mendorong Pemkab Kukar untuk meniru langkah tersebut. Apalagi, Kukar termasuk daerah dengan sebaran kasus DBD yang merata di sejumlah kecamatan.

Data Dinkes Kukar mencatat, kasus DBD terbanyak pada 2025 ditemukan di Kecamatan Loa Janan, Tenggarong, dan Sanga-Sanga. Sementara berdasarkan kelompok usia, anak-anak 5 sampai 14 tahun jadi yang paling terdampak.

Selain vaksinasi, Kusnandar mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia menyebut penularan DBD melibatkan tiga unsur utama, yakni lingkungan, nyamuk sebagai pembawa virus, dan manusia sebagai inangnya.

Untuk itu, masyarakat diimbau tetap menjalankan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin di rumah masing-masing. Upaya medis dan nonmedis harus berjalan seimbang.

“Kesempatan ini terbatas, hanya untuk 1.500 anak. Jadi bagi sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi vaksinasi, tolong benar-benar dimanfaatkan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *