Bagikan 👇

Timesnusantara.com, Samarinda — Adanya kritik yang dilontarkan masyarakat terhadap Perusahaan Daerah (Perusda), segera direspon anggota dewan, terkhusus oleh Komisi II DPRD Provinsi

Bertempat di gedung DPRD Provinsi Kaltim Jalan, Teuku Umar, Karang Paci, Samarinda, Senin (22/08/2022). Perihal kritik masyarakat terhadap Perusda itu pun ditanggapi cepat oleh anggota DPRD Provinsi Kaltim Komisi II Nidya Listiyono.
Kritik dari masyarakat yang belum diketahui dikirim oleh siapa dan dari mana itu, tetapi diperuntukkan kepada Perusda, yang mana surat tersebut ditujukan kepada Komisi II.

Nidya Listiyono mengatakan isi kritik tersebut ialah, mempertanyakan kenapa Perusda tidak bisa berkembang, atau tidak bisa maju. Penyebabnya adalah dalam Perusda, hanya untuk sekelompok orang yang saling berhubungan satu sama lain. Hubungan keluarga seperti sepupu, ipar, anak, menantu dan sebagainya. Hal itu terjadi dala Perusda.

“Demikian menurut kritik tersebut. Artinya, telah terjadi nepotisme di perusahaan itu, yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, dengan bidang bisnisnya. Sehingga, tanpa adanya hubungan keluarga, jangan harap bisa masuk Perusda. Karena di dalam Perusda tidak dibutuhkan pengalaman. Apalagi keterampilan yang penting adalah keterkaitan keluarga saja,” papar Nidya Listiyono menjelaskan arti dari kritik masyarakat terhadap Perusda.

Soal yang kedua mengenai gaji yang terlalu tinggi, tidak ada standar gaji yang jelas, sehingga dilakukan semaunya sendiri. Akibatnya menguras habis uang APBD. Tidak adanya kegiatan yang jelas, dan hanya menunggu hasil bagi hasil atau dari usaha perusahaan lain.

Kemudian instansi pembina sangat lemah dalam proses pengawasannya. Bahkan badan pengawas tidak bekerja, tidak ada hasil kerjanya, hanya numpang makan gaji buta.

“Bahasanya begitu nih. Aset dan uang miliaran rupiah raib tanpa pengawasan, semua terjadi karena pembinaan nihil, pengawasan nihil, semua melempem karena ada uang receh. Lebih parah lagi, kendaraan milik Perusda bukan digunakan untuk internal saja, melainkan juga dipakai untuk external. Coba perhatikan bagaimana Perusda bisa berkembang kalau aset Perusda saja digunakan oleh anak komisaris? Dimana letak pengawasan dan lain sebagainya. Nah, ini bahasanya begitu,” kata Nidya Listiyono membacakan isi kritik tersebut.

Nidya Listiyono mengatakan, “Nah hal-hal seperti ini yang kemudian apa namanya? Dikritik dan juga saran. Kita akan terus mengkritisi terkait Perusda, yang tentunya kita praduga tak bersalah. Tetapi pada poinnya adalah kita melihat kinerja keuangannya saja, apakah kemudian meningkat atau tidak selama telah terjadinya proses pergantian pengangkatan Direksi yang baru,” terang Nidya lebih lanjut.

Dia kemudian minta kepada masyarakat agar sama-sama melakukan monitoring terhadap kinerja Perusda. Berikan kritik yang membangun. Agar pihak perusahaan dapat bekerja lebih efektif dan produktif.

“Kita minta semua monitoring. Hari ini kita sedang bekerja. Saya selaku Ketua Komisi II yang baru menjabat kurang lebih setengah tahun ini, tentu kita akan terus bekerja. Nanti kita lihatlah, apakah laporan keuangan di akhir tahun pada Perusda itu menjadi positif atau sebaliknya,” pungkas Nidya Listiyono.

  • Penulis: Rudy Fadlansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *