Bagikan 👇

Timesnusantara.com, KUKAR. Sekda Kukar Sunggono berharap agar tradisi gotong royong di Maluhu tetap dipertahankan. Hal ini diungkapkan saat menghadiri acara peringatan HUT Maluhu ke-54 di Sasana Krida Bhakti pada Selasa (21/5/24).

Acara yang berlangsung dari tanggal 21-22 Mei 2024 ini dirangkai dengan Festival Tumpeng dan Ingkung, pemutaran film dokumenter tentang Kelurahan Maluhu, dan pengajian akbar.

Sekda Kukar Sunggono menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-54 kepada seluruh warga Kelurahan Maluhu, terutama kepada para pendahulu dan transmigran yang telah membuka wilayah kelurahan ini sejak tahun 1970. Ia menyoroti kemajuan kelurahan yang sangat signifikan.

“Jika kita lihat dari film dokumenter tadi, kemajuan ini mungkin jauh dari perkiraan awal dan patut disyukuri. Kebersamaan, kerja keras, dan dukungan dari Pemkab Kukar yang memberikan perhatian besar terhadap kelurahan ini telah membawa kemajuan yang bisa dibandingkan dengan kelurahan lain, khususnya wilayah eks transmigrasi,” ungkapnya.

Sunggono menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. “Mudah-mudahan rasa kebersamaan, gotong royong, saling dukung, dan menghargai tetap dipertahankan. Nilai-nilai ini di tempat lain sudah berkurang, terutama di wilayah perkotaan. Namun di Kelurahan Maluhu, meski berada di perkotaan, jiwa kebersamaan ini masih terjaga. Semoga hal ini menjadi kekuatan bagi Kelurahan Maluhu untuk lebih maju,” ujarnya.

Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat atas dukungan mereka dalam peringatan HUT Maluhu ke-54 ini. Ia berharap kekompakan dan kebersamaan, serta semangat gotong royong, tetap terjaga dengan baik untuk memudahkan pembangunan Maluhu ke arah yang lebih baik.

Tri Joko Kuncoro menambahkan bahwa film pendek yang diputar dalam acara ini diinisiasi oleh komunitas indie Tenggarong dan berdasarkan kisah nyata salah satu pasangan transmigran di Maluhu.

“Perjuangan mereka luar biasa, mulai dari Jawa dengan janji yang kurang sesuai setelah sampai di sini. Mereka akhirnya memilih untuk bertahan hidup di sini. Film ini menggambarkan realitas tersebut,” tutupnya (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *