Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) dalam menekan angka stunting mulai menunjukkan hasil. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyampaikan bahwa tren penurunan prevalensi stunting di daerahnya memberi harapan besar untuk masa depan anak-anak Bumi Etam.

Hal ini disampaikan Seno seusai menghadiri Musyawarah Daerah IV Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Kaltim yang digelar di Gedung Bangga Kencana, Kantor Perwakilan BKKBN, Jumat lalu (16/5/2025). Dalam kegiatan tersebut, isu stunting menjadi salah satu bahasan utama.

Mengacu pada data dari BKKBN, angka stunting di Kalimantan Timur kini berada di level 22,02 persen, turun tipis dari sebelumnya 22,09 persen. Meski penurunan tersebut belum terlalu mencolok, namun Seno menilai tren ini sebagai sinyal positif yang harus dijaga dan dipercepat.

“Kita melihat adanya perbaikan meski belum drastis. Ini bukti bahwa intervensi yang dilakukan mulai memberi dampak, dan tentu akan terus kita tingkatkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi utama yang ditempuh saat ini berfokus pada pemberian gizi tambahan dan vitamin kepada anak-anak yang masuk dalam kategori rawan stunting. Deteksi fisik menjadi langkah awal untuk memastikan anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan bisa segera mendapat penanganan.

“Begitu terlihat pertumbuhan anak tidak optimal, langsung diberikan asupan tambahan dan pengawasan ketat,” ujar Seno.

Menurutnya, masa usia dini, terutama dari dua hingga lima tahun merupakan periode emas dalam perkembangan anak. Karena itu, Pemprov Kaltim menaruh perhatian besar pada kelompok usia ini dalam program pencegahan maupun pemulihan stunting.

Kebijakan jangka menengah pun telah dirancang. Pemerintah daerah menyiapkan serangkaian program lima tahunan yang menyasar peningkatan kualitas gizi, edukasi ibu hamil, serta perbaikan sanitasi keluarga sebagai bagian dari langkah menyeluruh untuk menurunkan angka stunting secara berkelanjutan.

Wakil Gubernur juga menyatakan optimisme bahwa hasil nyata akan terlihat lebih signifikan dalam waktu dekat, seiring dengan penguatan kerja sama lintas sektor.

“InsyaAllah tahun depan kita bisa menyaksikan penurunan yang jauh lebih terasa. Yang penting, kerja kita harus terus konsisten,” katanya.

Penanganan stunting, lanjutnya, bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi. Selain Dinas Kesehatan dan BKKBN, keterlibatan OPD lainnya seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dan lembaga sosial lainnya sangat diperlukan agar penanganan bisa menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dengan sinergi semua elemen tersebut, Seno Aji berharap Kalimantan Timur bisa menjadi pelopor dalam menurunkan angka stunting secara menyeluruh dan berkelanjutan di Indonesia. (Adv Diskominfo Kaltim)

Penulis: Rey | Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *