Timesnusantara.com — Samarinda. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, mengangkat persoalan padatnya lalu lintas kapal di Sungai Mahakam sebagai isu strategis yang mendesak ditangani, terutama di kawasan sekitar Jembatan Mahkota 2.
Ia menganggap kondisi saat ini sudah berada dalam titik yang membahayakan dan memerlukan penataan serius demi menjaga keselamatan publik.
Rudy menyatakan keprihatinan terhadap praktik pelayaran yang tak tertib, di mana banyak kapal bermuatan besar melintas maupun berlabuh tanpa mengikuti ketentuan yang berlaku, terutama di daerah Sungai Kapih dan area bawah jembatan.
“Lalu lintas sungai sangat padat. Kapal-kapal tidak berada di jalur aman dan banyak yang tambat di tempat sembarangan,” ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Ia mencontohkan, beberapa kapal terlihat bersandar di batang pohon di tepian sungai atau terlalu dekat dengan struktur jembatan. Menurutnya, kebiasaan ini sangat berisiko dan bisa menyebabkan kecelakaan besar jika terjadi pelepasan tali tambat yang tak terkendali.
“Bayangkan jika sebuah kapal hanyut dan menghantam jembatan atau kapal lain. Potensi kerugiannya besar, belum lagi risiko korban jiwa,” tegasnya.
Gubernur Rudy meminta agar langkah cepat dilakukan, termasuk penataan kembali zona tambat dan percepatan pembangunan fasilitas dermaga yang sesuai standar keamanan pelayaran.
Ia juga mendorong agar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) diperbarui agar pengaturan jalur air bisa dijalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
“Kita tidak bisa menunda lagi. Lokasi sandar resmi harus disiapkan dan kalau perlu segera dibangun,” katanya.
Tak hanya itu, Rudy juga menyoroti ketidaksamaan sistem pengamanan pada jembatan-jembatan yang melintasi Sungai Mahakam dari hulu hingga hilir. Ia menyatakan perlunya standardisasi sistem keselamatan di setiap jembatan agar tidak ada celah yang membahayakan.
“Seluruh jembatan harus dilengkapi sistem pelindung yang setara. Jangan menunggu terjadi kecelakaan baru bertindak,” tambahnya.
Sebagai informasi, Jembatan Mahakam yang menjadi salah satu penghubung utama di Kaltim telah mengalami lebih dari dua puluh insiden tabrakan kapal selama lebih dari empat dekade masa operasionalnya. Terakhir, benturan kapal terhadap jembatan kembali terjadi pada 26 April lalu. (Adv Diskominfo Kaltim)
Penulis: Rey | Editor: Redaksi
