Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Menyikapi maraknya kasus kenakalan remaja dan fenomena krisis identitas di kalangan generasi muda, Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Hasanuddin Mas’ud, menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai pusat pemulihan sosial sekaligus tempat penguatan karakter.

Menurutnya, tekanan sosial yang tinggi, lemahnya dukungan keluarga, dan paparan informasi digital yang masif menjadi faktor utama yang menyebabkan anak muda kehilangan arah dan jati diri.

“Remaja saat ini bukan hanya berhadapan dengan perilaku menyimpang, tapi juga persoalan identitas. Sekolah seharusnya hadir sebagai tempat aman yang membantu mereka kembali menemukan diri, bukan sekadar ruang akademik,” ujar Hamas, sapaan akrabnya, Minggu (8/6/2025).

Ia menyoroti bahwa masih banyak pelajar yang mengalami tekanan mental dan emosional tanpa adanya saluran yang bisa mereka akses untuk mengungkapkan keresahan. Jika pendekatan sekolah hanya menekankan aspek administratif dan penegakan disiplin semata, hal itu justru memperparah jarak antara siswa dan lingkungan pendidikan.

“Selama ini, terlalu banyak pembahasan tentang hukuman. Padahal, sebagian besar dari mereka hanya ingin didengar. Esensi pendidikan itu adalah merangkul, bukan menghukum,” ujarnya tegas.

Hamas pun meminta Dinas Pendidikan dan seluruh satuan pendidikan untuk memperkuat peran konseling dan membangun ruang-ruang belajar yang lebih empatik, di mana siswa merasa aman secara emosional dan sosial.

Ia juga menyinggung bahwa sistem pendidikan saat ini masih terjebak dalam pendekatan konvensional yang kaku dan lebih menekankan sanksi dibanding pendekatan penyembuhan atau restorative.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hubungan yang renggang antara remaja dan orang tua turut memperburuk kondisi. Maka, pendidikan karakter tak bisa hanya menyasar murid di sekolah, tapi harus menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan peran keluarga secara aktif.

“Ketika anak kehilangan sosok panutan, mereka akan mencari referensi sendiri. Jika sekolah dan keluarga tidak berjalan beriringan, maka mereka bisa tersesat di lingkungan yang salah,” tuturnya.

Hamas juga mendorong adanya pembaruan menyeluruh pada sistem pendidikan nasional, khususnya dalam hal kurikulum.

Ia menilai kurikulum saat ini terlalu terpaku pada pencapaian angka dan belum responsif terhadap realitas sosial serta kebutuhan psikologis remaja masa kini.

“Pendidikan seharusnya menjadi ruang bertumbuh, bukan sekadar jalur menuju dunia kerja. Sekolah idealnya menjadi tempat yang memberi rasa aman dan menjadi rumah karakter, bukan pabrik nilai,” katanya.

Ia menegaskan bahwa menciptakan sekolah yang ramah dan inklusif membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pihak, bukan hanya guru, tapi juga keluarga dan masyarakat secara luas.

“Jika kita ingin mencegah kekerasan dan kenakalan remaja, maka yang lebih dulu harus dibangun adalah relasi emosional. Bukan dengan kontrol semata, melainkan kepercayaan,” tandasnya. (Adv/dprdkaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *