Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Dinas Pariwisata kembali menghadirkan gelaran tahunan berskala internasional, East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025. Untuk mengawali rangkaian acara, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim memfasilitasi kegiatan jumpa pers yang digelar pada Rabu (11/6/2025) di Kantor Diskominfo Kaltim, Samarinda.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, menyampaikan bahwa EBIFF tahun ini akan tetap menghadirkan delegasi dari berbagai negara meski jumlahnya dikurangi.

“Alhamdulillah, walaupun dari sisi jumlah peserta mancanegara berkurang karena efisiensi, dari sisi kualitas tetap kami jaga. Kami dibantu SIOP dalam proses kurasi agar pertunjukan tetap berkualitas,” jelasnya.

Negara-negara yang terkonfirmasi hadir di antaranya Korea Selatan (16 orang), India (12 orang), dan Polandia (20 orang). Selain menampilkan pertunjukan budaya luar negeri, festival ini juga akan melibatkan seniman lokal dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota di Kaltim.

“Tahun lalu masyarakat duduk melantai dengan tenang dan menikmati. Harapan kami tahun ini bisa lebih ramai dan tetap tertib,” ujarnya.

Mengusung tema ‘Kaltim Lintas Budaya’, EBIFF 2025 akan menampilkan seni rakyat seperti tingkilan, madihin, dan tarsul dari sanggar-sanggar lokal yang dihadirkan dalam kemasan baru.

“Kami ingin seni tradisional kembali dikenal dan dicintai. Dulu mungkin orang merasa jauh dari identitasnya, tapi saat ini kita tampilkan dalam versi terbarukan,” ujar Awang.

Festival ini juga menjadi momen strategis mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah. Dispar Kaltim akan menggelar pameran ekonomi kreatif yang melibatkan UMKM unggulan, mulai dari makanan khas seperti ilat sapi dengan variasi rasa, amplang, hingga teh tradisional.

“Kemarin waktu kita kasih goodie bag isi amplang dan keminting, tamu dari Korea dan Jepang malah pesan langsung ke pengrajinnya. Tahun ini kami minta pengrajin mencantumkan nomor HP agar bisa langsung dihubungi,” katanya.

EBIFF 2025 menargetkan nilai transaksi ekonomi kreatif mencapai Rp12 miliar, naik dari Rp10 miliar tahun sebelumnya. Perhitungan ini berasal dari estimasi belanja peserta dan pengunjung terhadap hotel, kuliner, transportasi, hingga rental kendaraan di lokasi acara, termasuk yang digelar di kawasan wisata Watu Beach.

Sementara itu, dari sisi anggaran, Awang menegaskan bahwa efisiensi bukan alasan untuk menurunkan semangat pelaku seni.

“Honor pengisi acara memang turun, misalnya dari Rp10 juta jadi Rp8 juta, tapi kami tetap bayar. Banyak sanggar bilang nggak apa-apa kalau tidak dibayar, tapi menurut kami itu bagian dari pembinaan. Pemerintah harus tetap hadir untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku seni,” tegasnya.

Menariknya, seluruh rangkaian acara akan gratis untuk masyarakat. Tidak ada artis nasional yang dihadirkan, karena seniman mancanegara dan lokal menjadi bintang utama dalam perayaan budaya ini.

“Justru itu kekuatannya. Artisnya ya mereka, seniman rakyat dari berbagai penjuru dunia dan tanah Kaltim,” pungkas Awang.

EBIFF 2025 dirancang sebagai ajang pertukaran budaya, promosi wisata, dan pemberdayaan ekonomi kreatif. Dispar Kaltim optimistis, festival ini bukan hanya menciptakan hiburan, tetapi juga dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat Kalimantan Timur. (Adv Diskominfo Kaltim)

Penulis: Rey | Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *