Timesnusantara.com – Kukar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong sekolah-sekolah untuk tidak hanya mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar, tapi juga aktif melestarikan bahasa daerah, khususnya Bahasa Kutai.
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Joko Sampurno, menyebutkan bahwa pihaknya terus mengimbau guru-guru Bahasa Indonesia agar mengajarkan materi sesuai kaidah dan ejaan yang berlaku, terutama dalam konteks pembelajaran di tingkat dasar dan menengah.
“Kami ingin bahasa Indonesia tidak sekadar diajarkan, tapi juga dipraktikkan secara tepat di lingkungan sekolah. Ini penting karena menyangkut identitas kebangsaan,” kata Joko, Sabtu (14/6/2025).
Menurutnya, tantangan penggunaan Bahasa Indonesia saat ini datang dari masifnya intervensi bahasa asing, baik melalui media sosial maupun pergaulan sehari-hari. Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga fungsi bahasa sebagai alat pemersatu bangsa.
Namun tak berhenti di situ, Disdikbud Kukar juga tengah memperkuat pelestarian bahasa daerah. Salah satunya dengan memasukkan Bahasa Kutai sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) di sejumlah SD dan SMP.
“Bahasa daerah adalah akar budaya. Kalau itu hilang, maka kita kehilangan jati diri. Itulah mengapa pelajaran Bahasa Kutai perlu dikenalkan sejak dini,” ungkapnya.
Pelajaran Bahasa Kutai telah mulai diterapkan di beberapa sekolah, meski pelaksanaannya belum merata. Bidang kelembagaan dan bidang pembinaan SD dan SMP tengah memetakan sekolah-sekolah mana saja yang sudah menjalankannya.
Ia menambahkan bahwa pelestarian bahasa ini juga sejalan dengan penguatan karakter dan budaya lokal dalam kurikulum merdeka belajar.
“Kalau kita ingin generasi muda mencintai budaya, ya dimulai dari mengenal bahasanya sendiri,” ujar Joko.
Di sisi lain, Kukar baru saja menempatkan hampir seribu tenaga pendidik dan teknis baru dari formasi P3K ke seluruh wilayah kabupaten. Penempatan ini diharapkan memperkuat implementasi program, termasuk pelajaran bahasa dan budaya daerah.
“Sebaran guru dilakukan berdasarkan rombel dan jam pelajaran. Jadi bukan asal menempatkan,” tegas Joko.
Ia berharap keberadaan tenaga pendidik baru ini bisa membantu menyukseskan program pelestarian bahasa, termasuk mendorong kegiatan ekstrakurikuler berbasis budaya lokal.
“Kami ingin sekolah tak hanya jadi tempat belajar akademik, tapi juga ruang tumbuhnya identitas budaya,” tutupnya.
(Adv. R)
