Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Kukar. Di tengah kawasan kebun sawit dan pohon karet, SMP Negeri 7 Muara Kaman menjelma menjadi sekolah yang mendobrak batasan pembelajaran konvensional. Berkat pendekatan unik yang menggabungkan alam dan teknologi, sekolah ini berhasil menarik perhatian Google Asia Pacific.

Konsep pembelajaran di sekolah tersebut menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium alam yang terintegrasi dengan teknologi digital. Metode ini diaplikasikan dalam semua mata pelajaran melalui perangkat Chromebook dan Google Workspace.

“Inovasi kami adalah memadukan pembelajaran berbasis alam dengan teknologi digital,” ujar Google Certified Coach Kukar, Suwito, Senin (23/6/2025).

“Kebun sawit dan pohon karet di sekitar sekolah kami gunakan sebagai bahan praktik untuk sains, sosial, hingga literasi, semua berbasis digital.”

Inovasi inilah yang membedakan SMPN 7 Muara Kaman dari sekolah-sekolah lain di Indonesia, bahkan di dunia. Dalam testimoni yang diterima dari Google Asia Pacific, pendekatan ini dinilai unik dan belum pernah ditemukan di belahan dunia manapun.

Proses kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa tidak hanya berhenti pada penggunaan teknologi semata. Mereka juga menghasilkan konten pembelajaran berbasis video, simulasi, dan projek yang mendukung kurikulum berbasis karakter dan lingkungan.

“Mereka membuat bahan ajar yang menarik, kolaboratif, dan digital. Siswa lebih antusias karena merasa belajar dari hal-hal nyata di sekitar mereka.” Jelas Suwito.

Seluruh proses ini hanya mungkin dilakukan karena dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar. Mulai dari penyediaan Chromebook hingga pelatihan untuk guru, serta fasilitas seperti Starlink dan solar cell untuk mengatasi keterbatasan listrik dan jaringan.

Kepala Sekolah SMPN 7 Muara Kaman, Rasian, menambahkan bahwa pendekatan ini telah membawa perubahan besar di sekolah yang dikelolanya.

“Dulu murid kami kurang dari 50. Kini, karena pendekatan pembelajaran yang menarik, jumlah siswa meningkat drastis menjadi sekitar 150 di tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Plt Kepala Disdikbud Kukar, Emy Rosana, mendorong sekolah lain untuk tidak sekadar meniru, tetapi mengembangkan pendekatan yang relevan dengan karakter lokal masing-masing.

“Kami ingin sekolah-sekolah di Kukar terus berinovasi sesuai dengan kondisi mereka. SMPN 7 Muara Kaman sudah membuktikan, bahwa dari pelosok pun bisa lahir praktik terbaik,” pungkas Emy.

(Adv. R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *