Timesnusantara.com – Kukar. Di tengah upaya peningkatan ekonomi berbasis perikanan, para nelayan di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, masih bergulat dengan keterbatasan akses modal dan pasar yang luas.
Meskipun telah mendapatkan dorongan dari program Kredit Kukar Idaman, sebagian besar nelayan mengaku masih kesulitan menembus pasar regional, sehingga kesejahteraan mereka tetap bergantung pada harga lokal yang fluktuatif.
Program Kredit Kukar Idaman yang digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memang telah menjadi angin segar bagi pelaku usaha kecil, termasuk nelayan.
Namun, menurut Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Sebulu, Nurul Yakin, cakupan program ini belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan nyata nelayan di lapangan.
“Program ini sangat membantu dalam hal modal awal, tetapi jujur saja, masih jauh dari cukup. Banyak nelayan yang belum bisa mengaksesnya karena keterbatasan administrasi maupun sosialisasi,” ujar Nurul saat dihubungi, Senin, 30 Juni 2025.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama nelayan bukan hanya soal modal, tetapi juga distribusi hasil tangkapan yang belum optimal. Produk perikanan dari Sebulu masih banyak yang dijual di pasar lokal dengan harga yang tidak stabil dan kadang merugikan nelayan.
“Pasar lokal memang cepat, tapi harganya sangat tidak menentu. Kalau panen banyak, justru harganya jatuh. Nelayan jadi bingung harus jual ke mana lagi,” ungkap Nurul.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, pemerintah kecamatan berencana memperkuat sinergi dengan Dinas Perikanan dan instansi terkait lainnya.
Beberapa langkah strategis telah dirancang, seperti pelatihan pengolahan hasil perikanan, pendampingan usaha perikanan yang intensif, hingga fasilitasi pembukaan jalur pemasaran baru di luar wilayah Kukar.
“Harapan kami, ada pembinaan rutin yang tidak hanya datang saat ada proyek, tapi benar-benar berkelanjutan. Nelayan kita perlu dukungan jangka panjang,” katanya.
Pihak kecamatan juga mendorong adanya investasi pada infrastruktur pendukung, termasuk cold storage dan fasilitas transportasi hasil laut, guna menjaga kualitas produk saat didistribusikan ke pasar yang lebih jauh.
“Kami sangat berharap Pemkab dan dinas terkait tidak hanya hadir secara administratif, tapi juga aktif di lapangan, mendampingi nelayan kita agar lebih siap menghadapi tantangan pasar ke depan,” tutup Nurul.
