Timesnusantara.com — Samarinda. Persoalan sampah yang terus membebani Kota Samarinda, dengan volume ratusan ribu ton per tahun, tidak cukup ditangani melalui pendekatan kelembagaan semata. Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, M. Andriansyah, menilai akar persoalannya justru terletak pada rendahnya kesadaran kolektif warga terhadap pengelolaan sampah dari sumbernya.
Ia menekankan bahwa gerakan menyelesaikan persoalan sampah seharusnya lahir dari kemauan bersama, bukan dibebankan hanya kepada kelompok atau komunitas lingkungan tertentu.
“Ini bukan soal komunitas, tapi soal ajakan. Ayo bareng-bareng kita sadar sampah. Enggak perlu ada kelompok-kelompok tertentu, yang penting geraknya bersama,” ujarnya, Senin (14/7/2025).
Menurut Andriansyah, titik awal dari perubahan besar itu harus dimulai dari rumah. Ia menyarankan agar setiap keluarga terbiasa memilah dan mengelola sampah secara mandiri sebelum masuk ke tahap pengolahan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun di Bank Sampah.
“Harus mulai dari rumah. Nanti di TPS, baru diolah teman-teman di Bank Sampah. Kalau ada organisasi yang mau gabung, ayo kita jalankan bareng. Tapi konsepnya satu: bergerak bersama, bukan sektoral,” tegasnya.
Andriansyah juga mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah bukan terletak pada ketersediaan aturan atau fasilitas, melainkan pada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Ia menyebut bahwa membentuk kesadaran lebih sulit daripada merancang regulasi.
“Ngerubah perilaku itu lebih berat daripada bikin aturan,” tambahnya.
Meski demikian, ia tak menampik pentingnya kehadiran regulasi sebagai alat pendukung dalam fase berikutnya.
Menurutnya, setelah partisipasi warga mulai terbentuk, peraturan akan memperkuat gerakan itu agar menjadi sistemik dan konsisten.
“Tapi setelah kesadaran mulai tumbuh, regulasi bisa jadi penguat. Pelan-pelan, kita siapkan dasar regulasinya. Buang sampah sembarangan? Kena denda. Tapi itu nanti. Sekarang kita bangun dulu kesadarannya,” tutupnya.
Andriansyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhenti saling menunggu atau menyalahkan, dan mulai mengambil peran sekecil apa pun dalam menjaga kebersihan kota. Baginya, membangun kota yang bersih bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab moral bersama. (Adv/dprdsamarinda)
