Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Perhatian terhadap pembentukan karakter anak kembali disuarakan Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua, khususnya ayah, dalam mendampingi tumbuh kembang anak, termasuk dalam lingkungan pendidikan.

Dalam keterangannya, Ismail menekankan bahwa anak yang tidak mendapatkan cukup kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya cenderung mencari bentuk cinta lain di luar rumah.

Kondisi ini, menurutnya, bisa berbahaya apabila lingkungan yang dijumpai anak justru membawa pengaruh negatif.

“Anak yang kehilangan cinta dari orang tuanya akan mencari cinta di luar. Kalau dia menemukan lingkungan yang baik, alhamdulillah. Tapi kalau tidak, maka karakter anak bisa terbentuk secara negatif,” ujarnya, Kamis (17/7/2025).

Ismail juga menggarisbawahi pentingnya kehadiran orang tua secara utuh dalam kehidupan anak. Tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga dalam interaksi psikologis yang hangat dan bermakna.

Ia menyinggung fenomena di mana orang tua, terutama ayah, kerap hanya menjadi ‘figuran’ dalam proses tumbuh kembang anak karena kesibukan pekerjaan atau kurangnya kesadaran terhadap peran pengasuhan.

Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak. Bila orang tua abai, maka potensi penyimpangan perilaku anak akan meningkat. Karena itu, ia menyerukan agar sekolah-sekolah di Samarinda lebih aktif menyelenggarakan sesi parenting, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga bagi orang tua.

“Sering saya sampaikan kepada kepala sekolah dan guru, buatlah sesi parenting agar orang tua sadar bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Bahkan, porsi terbesarnya justru di rumah,” tegasnya.

Ia menilai, pendidikan bukan sekadar soal nilai akademis, tetapi juga pembentukan akhlak, empati, dan keteladanan yang dimulai dari rumah. Ismail mengaitkan pentingnya peran keluarga ini dengan upaya besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana generasi muda harus dipersiapkan dengan baik dari sisi karakter dan mentalitas.

“Kalau anak kehilangan cinta dari keluarganya, lalu ia mencari ke luar dan bertemu dengan lingkungan yang salah, maka potensi penyimpangan jadi besar. Itu yang harus kita cegah bersama,” jelasnya.

Ia pun mengajak semua pihak, baik pemerintah, sekolah, maupun masyarakat, untuk bergandengan tangan memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang suportif dan penuh kasih sayang.

“Anak-anak ini bukan hanya milik orang tuanya. Mereka adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau kita ingin generasi 2045 itu unggul, maka proses pembentukan karakternya harus dimulai dari sekarang,” pungkasnya. (Adv/drpdsamarinda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *