Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Anggota DPRD Kalimantan Timur, Abdul Giaz, menyerukan perlunya reformasi pendidikan yang lebih responsif terhadap kondisi daerah, dengan mengedepankan karakteristik lokal sebagai landasan utama kebijakan.

Menurut legislator dari Fraksi PAN-NasDem ini, pendekatan pendidikan yang selama ini bersifat seragam dinilai tak lagi relevan untuk diterapkan di Kaltim, mengingat kompleksitas wilayah serta keberagaman sosial masyarakatnya.

“Pendidikan kita selama ini cenderung tersentralisasi. Padahal, tiap daerah punya dinamika berbeda yang membutuhkan kebijakan khusus. Harus ada keberanian untuk menyusun sistem yang lebih fleksibel dan kontekstual,” tegasnya, Senin (21/7/2025).

Giaz menyebutkan bahwa kesenjangan akses pendidikan, ketimpangan mutu pengajaran, serta masih tingginya beban pembiayaan menjadi tantangan nyata yang belum sepenuhnya terselesaikan, terutama di daerah terpencil.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan sektor pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada kuantitas semata, tetapi juga pada nilai keadilan dan inklusivitas. Perhatian terhadap kelompok rentan seperti anak-anak berkebutuhan khusus, komunitas adat, dan warga di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) harus menjadi bagian penting dari perencanaan pendidikan.

“Inklusi bukan pelengkap, tapi bagian utama dari sistem pendidikan yang adil. Semua anak punya hak untuk belajar dalam lingkungan yang mendukung dan memahami kebutuhan mereka,” katanya.

Abdul Giaz juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam perumusan kebijakan pendidikan. Baginya, tokoh adat, komite sekolah, serta elemen masyarakat setempat memiliki pengetahuan lapangan yang dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun kurikulum dan strategi pengajaran.

“Kalau kita ingin pendidikan yang kontekstual, maka mereka yang hidup di tengah masyarakatlah yang seharusnya dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Ia berharap, ke depan, arah pembangunan pendidikan di Kalimantan Timur tak sekadar meningkatkan angka partisipasi sekolah, tetapi juga mampu mencetak generasi yang unggul secara intelektual, sehat jasmani, dan berakhlak baik.

“Pendidikan adalah jalan untuk menciptakan masa depan yang inklusif dan bermartabat. Kita ingin sistem yang melindungi semua anak-anak Kaltim, dari kota sampai pelosok, tanpa kecuali,” tutupnya. (Adv/dprdkaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *