Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUKAR. Ancaman retakan tanah kembali menghantui warga di Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun.

Fenomena alam yang terjadi di RT 014 dan RT 015 ini tak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga mengancam keselamatan hunian, fasilitas umum, dan akses jalan lingkungan.

Sejumlah rumah dilaporkan mengalami penurunan tanah cukup parah. Retakan juga terpantau di pekarangan warga, badan jalan, hingga di bawah rumah panggung yang berdiri di bantaran sungai. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam, mengingat pergeseran tanah terus meluas.

Kepala Desa Kota Bangun Ulu, Aroel Dhamank, menyebut retakan yang muncul tergolong lebar dan dalam.

Pemerintah desa langsung meminta warga untuk menghindari aktivitas berat di area yang sudah terdampak demi menjaga keselamatan.

“Beberapa rumah bahkan sudah mulai miring. Kami minta warga menjauhi lokasi rawan dan tidak menambah bangunan di area retak,” ujar Aroel, Rabu (6/8/2025).

Tidak hanya rumah warga, jalur penghubung menuju jembatan yang baru selesai dibangun juga terdampak. Tanda-tanda pergeseran badan jalan sudah terlihat, memicu kekhawatiran akan potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur vital antar-RT tersebut.

Sebagai langkah awal, Pemdes segera berkoordinasi dengan RT dan perangkat desa untuk mendata titik-titik rawan serta rumah terdampak. Identifikasi ini penting sebagai dasar penanganan berikutnya yang lebih menyeluruh.

Komunikasi pun telah dibangun dengan pihak kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar. Pemerintah desa berharap segera dilakukan kajian teknis dan penanganan darurat, termasuk opsi relokasi jika kondisi makin memburuk.

Menurut Aroel, penyebab utama retakan diduga berasal dari perubahan struktur tanah akibat musim kemarau panjang. Tanah yang sebelumnya kering menjadi labil saat kelembaban meningkat, ditambah beban bangunan di atasnya yang mempercepat pergeseran.

“Peristiwa seperti ini pernah terjadi, tapi skala kali ini jauh lebih luas. Kami minta warga tetap siaga dan mengikuti arahan pemerintah desa,” tambahnya.

Pemdes juga tengah menyusun laporan resmi untuk diajukan ke Pemkab Kukar, sebagai dasar pengusulan bantuan dan tindak lanjut kebijakan.

Langkah cepat pun mulai dilakukan, seperti pemasangan tanda bahaya dan pembatasan akses jalan.

“Kami tidak bisa menunggu sampai kerusakan makin parah. Pemantauan terus kami lakukan dan keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tutup Aroel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *