Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Samarinda tengah dihadapkan pada fenomena mengkhawatirkan dengan meningkatnya kasus bunuh diri yang sering kali dipicu tekanan psikososial. DPRD Kota Samarinda menegaskan, masalah ini tidak bisa dibiarkan hanya menjadi urusan individu semata.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai pencegahan harus melibatkan sinergi kuat antara keluarga, lingkungan sosial, dan pemerintah.

“Nah, untuk bagaimana cara anak muda atau kita sebagai manusia itu mempertahankan diri supaya tidak jatuh ke jurang tadi itu ya penyesalan, ketidakpastian, keputusasaan, dan lain sebagainya. Makanya ya kita ada penguatan-penguatan dari orang tua, dari masyarakat juga, dari pemerintah. Kan banyak program pemerintah ya, puskesmas-puskesmas sudah ada,” ujarnya, Minggu (10/8/2025).

Puji menekankan, keluarga memegang peran kunci melalui pola pengasuhan atau parenting yang sehat. Dengan dukungan moral yang konsisten, anak muda diharapkan lebih tangguh menghadapi tekanan hidup.

Ia juga menyoroti peran empati masyarakat sebagai deteksi dini terhadap individu yang berpotensi mengalami krisis mental.

Selain itu, Puji mengajak semua pihak untuk memahami faktor mendasar yang mendorong seseorang mengakhiri hidupnya, mulai dari masalah finansial, hubungan pribadi, hingga kehilangan pekerjaan.

Menurutnya, pemerintah daerah dapat melakukan survei untuk memetakan penyebab utama dan merumuskan langkah pencegahan yang tepat.

“Empati baik itu dari pihak keluarga terdekat, dari lingkungannya, dan juga dari pemerintah itu harus. Kenapa dicari sebabnya empatinya seperti itu. Pemerintah itu wajib sebenarnya ya, mencari sebab kenapa warga Samarinda ini banyak seperti itu ya,” tuturnya.

Ia juga menilai media massa memiliki peran strategis dalam membangun literasi publik soal kesehatan mental. Dengan mengangkat opini masyarakat dan analisis dari para ahli, media dapat menjadi sarana edukasi dan diskusi terbuka.

“Tetapi itu peran juga dari media, bagaimana sebenarnya media juga bisa membuat literatur gitu ya, tentang banyak opini masyarakat terkait fenomena bunuh diri, apa sebabnya. Nanti kan diulas itu oleh ahli-ahlinya, baik itu psikolog, akademisi, maupun praktisi.”

Puji mengingatkan bahwa tanda-tanda krisis mental sering kali luput dari perhatian. Kasus ketika seseorang yang terlihat baik-baik saja justru memutuskan bunuh diri menjadi bukti bahwa kepedulian lingkungan masih kurang.

“Apalagi orang yang kelihatannya baik-baik kok tiba-tiba bunuh diri kan. Jadi berarti itu tidak aware terhadap orang-orang di sekitarnya kan, nggak aware.”

Sebagai langkah lanjutan, Puji mendorong pemerintah menyediakan layanan konseling yang mudah diakses masyarakat. Hal ini bisa dilakukan melalui dinas terkait maupun lembaga sosial yang bergerak di bidang parenting dan ketahanan mental.

“Itu mengantisipasinya seperti apa? Itu jadi PR pemerintah. Mungkin bisa ada layanan konseling, baik melalui dinas terkait maupun yayasan yang bergerak di bidang parenting dan ketahanan jiwa, agar masyarakat mampu bertahan dari tekanan hidup,” pungkasnya. (Adv/dprdsamarinda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *