Timesnusantara.com – KUKAR. Panen raya di RT 13 Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, Rabu (10/9/2025), menghadirkan cerita tersendiri.
Dari total 11 kelompok tani yang bernaung di bawah Gabungan Kelompok Tanj (Gapoktan) Sidodadi, 2 di antaranya merupakan kelompok wanita tani (KWT)yang kini turut berperan dalam menjaga produktivitas pangan daerah.
Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian ini menjadi penopang penting, mengingat luas lahan yang digarap mencapai lebih dari 239 hektare sawah, ditambah lahan kering 153,5 hektare dan lahan potensial sekitar 200 hektare. Dengan kondisi itu, tenaga kerja dari kaum perempuan benar-benar menjadi tambahan energi yang sangat mumpuni.
Dalam kesempatan ini, Lurah Mangkurawang, Ardiansyah yang turut hadir dalam perayaan panen raya mengatakan bahwa keberadaan kelompok wanita tani tidak hanya membantu pada tahap produksi, tetapi juga dalam mengelola hasil panen.
“Mereka aktif, baik di sawah maupun di kegiatan pasca panen. Jadi, peran mereka sangat terasa,” katanya.
Bahkan, sebagian KWT terlibat langsung dalam kerja sama dengan Bulog yang tahun ini berhasil menyerap 97 ton gabah kering panen dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Dukungan pasar yang jelas membuat kaum perempuan semakin termotivasi untuk terjun dalam aktivitas pertanian.
Menurut Ardiansyah, kerjasama anatara petani laki-laki dan perempuan membuat semangat gotong royong tetap hidup. Panen raya pun bukan sekadar perayaan hasil panen, melainkan juga wujud kebersamaan seluruh anggota kelompok tani tanpa memandang peran gender.
“Kalau bicara hasil, itu berkat kerja bersama. Para perempuan memberi warna tersendiri, terutama dalam hal ketekunan dan ketelitian mengelola lahan,” ujarnya.
Terpantau melalui media ini, turut juga dihadiri Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kukar, Ahyani Fadianur Diani, serta sejumlah pejabat daerah. Kehadiran mereka memberi apresiasi lebih kepada para petani, termasuk keterlibatan KWT yang semakin aktif.
Dengan produktivitas rata-rata 3,5 hingga 4 ton gabah per hektare, kontribusi perempuan tani diyakini akan terus berkembang. Mereka tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga penggerak yang menegaskan bahwa sektor pertanian terbuka bagi siapa pun.
