Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Samarinda —Implementasi program Internet Gratis (Gratispol) di Kalimantan Timur (Kaltim) dihantam keluhan dari masyarakat. Jaringan internet yang disediakan oleh pemerintah provinsi di ratusan desa ini dinilai kerap lemot atau lamban, jauh dari harapan peningkatan akses digital.

Menanggapi kritik ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, meminta publik untuk bersabar dan memahami tantangan teknis di lapangan.

Dia menjelaskan proyek ambisius yang menyasar 841 desa ini harus dikebut dalam waktu kurang dari delapan bulan.

“Banyak hal yang membuat lemot, bisa memang dari pusat, mungkin juga bandwidth-nya yang rendah, atau mungkin ada gangguan,” ujar Faisal.

Faisal menggunakan analogi sederhana untuk meminta pemakluman warga, merujuk pada layanan publik dasar lainnya.

“Sama seperti listrik atau air, dalam 30 hari, sehari saja rusak, ributnya sedunia, padahal 29 hari dia enak. Jadi, harap dimaklumi,” tambahnya

Tim Diskominfo terus bekerja keras di lapangan. Hingga saat ini, progres pencapaian program tersebut sudah menyentuh angka 87 persen, dengan total 734 desa telah berhasil terpasang jaringannya. Ia menyoroti sulitnya pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.

“Pekerjaannya sulit. Kita kerja kurang dari 8 bulan, tapi harus (mencakup) 841 desa. Jadi, sehari itu rata-rata 4 desa, itu pun tanpa libur,” jelasnya.

Data terbaru menunjukkan cakupan pemasangan jaringan sudah hampir merata di wilayah padat penduduk, seperti Kutai Kartanegara (187 dari 193 desa) dan Kutai Timur (135 dari 139 desa).

Namun, tantangan terbesar kini berada pada sisa desa yang belum terjangkau sekitar 107 desa yang masih on progress.

“Memang yang terakhir ini agak lambat karena tinggal yang sulit-sulit, nih. Yang enggak ada listrik, yang jauh, yang enggak kejangkau dengan EPO (fiber optik), mau enggak mau pakai Starlink,” ungkapnya.

Faisal memastikan bahwa teknologi satelit milik Elon Musk, Starlink, digunakan oleh beberapa provider di Kaltim untuk menembus wilayah blank spot. Provider seperti Telkomsel melayani 78 Desa dan Bestcamp 69 Desa memanfaatkan teknologi ini agar program Gratispol tetap bisa menjangkau pelosok.

Untuk menjamin kualitas layanan dan mengatasi keluhan masyarakat, Diskominfo Kaltim berjanji tidak akan berdiam diri. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan pada awal tahun depan.

Program internet desa Gratispol ini melibatkan sejumlah Internet Service Provider (ISP) besar, antara lain Telkom (WMS), Telkomsel (Indihome & Orbit), Icon+, Comtelindo, Telkomsat, dan Bestcamp. Kualitas layanan yang lamban ini otomatis akan menjadi catatan utama dalam evaluasi kinerja para penyedia jasa tersebut.

“Yang jelas, kami jalan dulu tahun ini sesuai target. Januari kita akan evaluasi, mana masalah-masalah kita perbaiki. Kalau perlu provider-nya kita ganti, kan selesai. Kalau enggak dicoba, ya enggak tahu dong,” pungkasnya.

Penulis : Frida | Editor: RF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *