Timesnusantara.com Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mengakselerasi langkah strategis untuk memperluas sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui percepatan hilirisasi kelapa dalam.
Upaya ini menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Kaltim menuju model pembangunan yang lebih mandiri dan berkelanjutan, tak lagi bersandar pada sumber daya alam tak terbarukan.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyebut kelapa dalam sebagai komoditas potensial yang selama ini belum digarap secara optimal. Menurutnya, peluang investasi di sektor ini sangat besar dan harus segera dimanfaatkan.
“Kami memandang perlu membuka ruang investasi seluas-luasnya untuk mendorong pertumbuhan industri hilirisasi kelapa dalam,” ujar Rudy Mas’ud, Minggu (30/11/2025).
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa dalam terbesar di dunia, namun pengolahan komoditas ini di dalam negeri masih sangat terbatas. Banyak produk mentah justru dikirim ke negara seperti Thailand dan Vietnam untuk diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Padahal, ujar Rudy, potensi ekonominya luar biasa besar. Satu pohon kelapa dalam mampu menghasilkan 50–80 buah per tahun, sementara pendapatan dari komoditas kopra bisa mencapai Rp35 juta per hektare. Nilai itu bahkan bisa berlipat ganda—bahkan menyentuh skala triliunan rupiah secara nasional—jika industri hilir berkembang optimal.
Industri hilirisasi kelapa dalam juga membuka pintu bagi berbagai produk turunan bernilai tinggi, mulai dari minyak kelapa, santan kemasan, hingga virgin coconut oil (VCO). Di sisi lain, sabut kelapa dapat diolah menjadi coco fiber dan coco peat yang sangat diminati pasar global, khususnya pada sektor pangan sehat, kosmetik, dan bahan baku alami.
“Produk olahan kelapa memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional,” tegas Rudy.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Gubernur meminta seluruh instansi terkait mempercepat proses perizinan dan meningkatkan promosi investasi. Penyederhanaan birokrasi dinilai menjadi kunci agar tercipta iklim usaha yang ramah bagi investor lokal maupun asing.
“Jika suatu proses dapat dipermudah, maka jangan dipersulit. Kita harus bekerja cepat, tepat, dan penuh komitmen,” jelasnya.
Langkah ini juga perlu didukung dengan penyediaan data yang lengkap dan akurat mengenai potensi kelapa dalam di Kaltim, termasuk peluang kerja sama pada berbagai proyek strategis. Promosi terintegrasi menjadi bagian penting untuk menarik minat pelaku industri.
Hilirisasi kelapa dalam diyakini tidak hanya mendorong kenaikan PAD, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, serta mengurangi ketergantungan Kaltim pada sektor ekstraktif. Transformasi ini dipandang sebagai pijakan penting menuju ekonomi daerah yang stabil, berdaya saing, dan berkesinambungan.
Dengan langkah agresif ini, Kaltim menargetkan dirinya menjadi salah satu pusat ekonomi hijau di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat menjadi motor penggerak pembangunan masa depan.
Editor : RF
Penulis : Dani
