Timesnusantara.com – KUTIM. Terangnya malam kini membawa harapan baru bagi masyarakat di sejumlah desa Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Setelah puluhan tahun hidup dengan keterbatasan akses energi, warga di 10 desa yang berada di Kecamatan Sangkulirang dan Batu Ampar akhirnya dapat menikmati layanan listrik selama 24 jam. Kehadiran fasilitas tersebut membuka peluang bagi peningkatan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kehidupan masyarakat pedesaan.
Perkembangan ini menjadi salah satu capaian pembangunan yang mendapat perhatian Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, saat menyampaikan pidato dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutim di Lapangan Kantor Bupati Kutim, Senin (12/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ardiansyah mengungkapkan bahwa perluasan layanan listrik telah menjangkau enam desa di Kecamatan Sangkulirang sejak Agustus 2026 dan empat desa di Kecamatan Batu Ampar mulai 5 Oktober 2026.
Bagi masyarakat pedesaan, ketersediaan listrik sepanjang hari bukan sekadar persoalan penerangan. Akses energi yang lebih baik menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas produktif dan meningkatkan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya, keterbatasan layanan listrik menjadi tantangan yang harus dihadapi masyarakat selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai aktivitas yang membutuhkan pasokan energi, terutama kegiatan yang berlangsung pada malam hari.
Dengan tersedianya listrik selama 24 jam, masyarakat kini memiliki peluang lebih besar untuk memanfaatkan berbagai peralatan elektronik dalam mendukung pekerjaan dan kebutuhan rumah tangga.
Sektor usaha mikro dan kegiatan ekonomi rumahan menjadi salah satu bidang yang berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan layanan tersebut. Pasokan listrik yang lebih memadai memungkinkan pelaku usaha menggunakan peralatan produksi maupun penyimpanan yang membutuhkan energi secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat yang menjalankan usaha makanan dan minuman, misalnya, ketersediaan listrik dapat menunjang penggunaan lemari pendingin serta peralatan pengolahan bahan. Sementara bagi pelaku usaha jasa, pasokan energi sepanjang hari berpotensi memperluas waktu pelayanan kepada konsumen.
Manfaat lain juga dapat dirasakan dalam bidang pendidikan. Anak-anak sekolah memiliki kesempatan belajar pada malam hari dengan dukungan penerangan yang lebih baik. Selain itu, akses listrik dapat menunjang pemanfaatan perangkat elektronik untuk kegiatan pembelajaran.
Perluasan fasilitas energi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya pembangunan infrastruktur yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di wilayah yang jauh dari pusat perkotaan.
Dalam pidatonya, Ardiansyah menekankan bahwa pembangunan harus memberikan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia mengingatkan agar kemajuan daerah tidak hanya dinikmati oleh wilayah yang telah memiliki fasilitas lengkap.
“Pertumbuhan harus dirasakan bersama, tanpa ada wilayah, kelompok masyarakat, maupun generasi yang tertinggal,” ujar Ardiansyah.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau banyaknya program yang telah dilaksanakan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana hasil pembangunan dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara nyata.
Pemerataan infrastruktur menjadi salah satu upaya untuk memperkecil kesenjangan pelayanan dasar antardaerah. Kehadiran listrik di wilayah pedesaan diharapkan mampu menciptakan kesempatan yang lebih setara bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi maupun meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Hal tersebut sejalan dengan semangat peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur yang mengusung tema “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”.
Tema tersebut mencerminkan arah pembangunan yang tidak hanya mengejar kemajuan wilayah tertentu, tetapi juga mendorong seluruh kecamatan dan desa agar memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Ardiansyah menilai kemajuan daerah harus diukur dari luasnya manfaat pembangunan yang diterima masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pemerintah tidak hanya tercermin melalui pembangunan fisik, melainkan juga melalui perubahan positif dalam kehidupan warga.
“Sebab, kemajuan Kutai Timur bukan tentang seberapa jauh sebagian dapat melangkah, tetapi tentang seberapa banyak masyarakat dapat tumbuh dan maju bersama,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dasar perlu disertai perhatian terhadap keberlanjutan manfaatnya. Layanan listrik yang telah tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung berbagai kegiatan yang berdampak pada kesejahteraan.
Selain membuka kesempatan ekonomi, keberadaan listrik sepanjang hari juga berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat. Fasilitas umum yang membutuhkan energi dapat beroperasi dengan dukungan pasokan listrik yang lebih memadai.
Meski demikian, manfaat jangka panjang dari perluasan layanan tersebut juga bergantung pada pemanfaatannya oleh masyarakat serta kesinambungan pelayanan energi di wilayah terkait.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, hadirnya listrik 24 jam di 10 desa menjadi salah satu langkah dalam memperluas pemerataan pembangunan hingga kawasan pedesaan.
Pada momentum 27 tahun berdirinya Kabupaten Kutai Timur, capaian ini memberikan gambaran bahwa pembangunan infrastruktur dasar memiliki peran penting dalam membuka peluang kemajuan masyarakat. Dengan akses listrik yang semakin luas, desa-desa di Sangkulirang dan Batu Ampar diharapkan dapat mengembangkan potensi ekonomi, pendidikan, dan pelayanan masyarakat secara lebih optimal.
Editor : RF
Sumber : ALW
