Timesnusantara.com – Samarinda.
Saefuddin Zuhri Anggota Komisi III DPRD Samarinda Gelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dengan tema “4 Konsensus Kebangsaan” bertepat di Universitas Mulia Kampus Samarinda Jl. Pahlawan No.2A, Dadi Mulya, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Senin, (7/11/22).
Gelaran Sosialisasi ini menghadirkan 2 Narasumber yaitu Ibu Dosen Untag Dr. Isnawati, SH,MH.dan Bapak Dr.Andi Sutanto, AMD,S.Pd,M,PD,M.PBI dari Kesatuan Polri. Turut pula dihadiri oleh Para Mahasiswa/i yang sangat antusias dalam Sosialisasi tersebut.

Saefuddin Zuhri dalam pengantar pembukanya mengatakan di hadapan para mahasiswa, Untuk menanamkan wawasan kebangsaan, warga masyarakat serta para pemuda perlu memahami 4 konsensus dasar bangsa yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
Dengan pemahaman terhadap 4 konsensus dasar bangsa tersebut diharapkan dapat tumbuh kesadaran cinta tanah air, dan pada akhirnya mendorong tercapainya tujuan NKRI.
Saefuddin Zuhri berharap, semoga sosialisasi kebangsaan ini bisa diterima adik-adik para mahasiswa/i semua. Ia menyebut, peran kritis mahasiswa juga harus tetap tertanam sehingga sebagai agen pengendali, mahasiswa dapat mencegah berbagai penyelewengan terhadap tujuan negara yang terjadi di masyarakat.
Ia menambahkan sebagai Anggota DPRD Kaltim merasa bangga atas kedatangannya di Universitas Mulia dengan membawa program kegiatan 4 Pilar.
“Sehingga Mahasiswa dan Mahasiswi menjadi lebih paham dan lebih mengerti tentang bagaimana pemikiran perbedaan nalar politik, nalar konstitusi, dan nalar ideologi,” ucapnya.
“Maka kami hadir dalam sosialisasi ini memberikan pencerahan kepada Mahasiswa, sekaligus memberikan motivasi kepada Mahasiswa untuk berdialog dengan wakil rakyat kita,” tutupnya.

Narasumber Andi Susanto dalam pemaparan materinya mengatakan, pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan menjadi instrumen penting dalam kebijakan pembinaan wawasan kebangsaan, serta implementasi nilai-nilai yang bersumber bhinneka tunggal ika, artinya indonesia sudah diadakan pada kemandirian pada saat itu.
Lanjutnya ia menjelaskan, kebijakan pembinaan wawasan kebangsaan adalah upaya pemerintah dalam mendukung penciptaan persatuan dan kesatuan bangsa dan ketahanan nasional dengan berdasarkan kepada implementasi nilai-nilai 4 konsensus Dasar Kebangsaan yaitu Pancasila, UUD tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Ia juga mengapresiasi atas sikap Toleransi yang merupakan konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghargai dan kerja sama antara kelompok masyarakat dengan beragam perbedaan. Maka dari itu, toleransi menjadi sikap yang sangat penting karena merupakan tindakan yang menghormati keragaman latar belakang, pandangan, dan kepercayaan.
“Salah satu alasan mengapa semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting bagi bangsa Indonesia adalah semboyan ini mempersatukan berbagai perbedaan yang ada di masyarakat. Semboyan ini mengisyaratkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang atau pemecah, melainkan menjadi pemersatu seluruh perbedaan yang ada,” ucapnya.

Ibu Dosen UNTAG Isnawati dalam pemaparannya juga menjelaskan, wawasan kebangsaan merupakan cara pandang Bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri dan lingkunganya yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, Wawasan Kebangsaan juga merupakan pemahaman atas kesatuan wilayah yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945. Ia juga menyampaikan empat konsensus kebangsaan yang perlu ditegakan melalui pengamalan nyata.
Ia menegaskan, pada intinya 4 konsensus Bangsa Indonesia tersebut adalah mengakui perbedaan dari Sabang sampai Meruke tetapi memiliki tujuan satu yaitu kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Nilai-nilai keindonesiaan itu adalah pluralis, toleran, mengedepankan persatuan dan kesatuan. Kita mahasiswa Universitas Mulia harus menjadi terdepan dalam menjaga bangsa dari ideologi yang bertentangan dengan bangsa kita,” pungkasnya.
