Bagikan 👇

Timesnusantara.com – Samarinda. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Samarinda, Firman Hidayat, menjelaskan berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwali) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Samarinda.

Firman mengungkapkan bahwa salah satu alasan rendahnya partisipasi adalah perbedaan mendasar antara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Menurutnya, pada Pileg, banyaknya calon legislatif yang berlomba-lomba menarik perhatian pemilih menciptakan daya tarik tersendiri.

Sementara itu, pada Pilkada, jumlah kandidat yang terbatas membuat perhatian pemilih lebih terfokus pada sedikit figur.

“Pada Pileg, terdapat sekitar 650 calon legislatif. Jika setiap calon dapat menarik seribu suara, maka itu sudah memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat partisipasi. Berbeda dengan Pilkada, di mana jumlah kandidat yang lebih sedikit membuat partisipasi pemilih cenderung lebih rendah,” kata Firman saat berbicara dengan media di Hotel Haris Samarinda, Minggu (8/12/2024).

Selain itu, Firman juga menyoroti tantangan lain terkait tingginya mobilitas penduduk di Samarinda.

Banyak warga yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) namun tidak lagi tinggal di kota ini.

Fenomena ini berdampak pada penurunan jumlah pemilih yang hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari pemungutan suara.

“Kami menemukan bahwa ada puluhan ribu warga yang masih terdaftar sebagai pemilih dengan KTP Samarinda, namun menjelang hari pemungutan suara, mereka sudah tidak lagi berada di kota. Bahkan, sepekan sebelum hari pencoblosan, banyak yang sudah meninggalkan Samarinda. Hal ini tentunya mempengaruhi distribusi formulir undangan memilih (Formulir C),” jelas Firman.

Meskipun KPU telah melakukan berbagai upaya seperti sosialisasi yang intensif dan pemutakhiran data pemilih, Firman mengakui bahwa tantangan yang berkaitan dengan mobilitas penduduk dan ketergantungan pada daya tarik figur kandidat tetap menjadi kendala utama dalam meningkatkan partisipasi pemilih.

“Fenomena ini memang cukup kompleks, khususnya di kota besar seperti Samarinda. Namun, kami terus berupaya untuk mengatasi tantangan ini dengan merancang strategi yang lebih efektif,” tambahnya.

Firman berharap ke depan, KPU dapat mengembangkan sistem pengelolaan data pemilih yang lebih akurat dan merancang pendekatan yang lebih relevan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat perkotaan.

“Memang, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Samarinda sebagai kota besar. Namun, kami tetap optimis dengan langkah-langkah yang telah disusun untuk mengatasi kendala ini,” tutup Firman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *