Timesnusantara.com — Samarinda. Kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi perhatian serius di Kota Samarinda. Banyak kasus yang tidak terungkap karena korban merasa takut atau malu untuk melapor.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti menilai bahwa stigma sosial menjadi penghalang utama bagi anak-anak dalam mencari perlindungan.
“Anak-anak sering enggan melapor karena takut atau malu menghadapi stigma di lingkungan mereka. Akibatnya, banyak kasus kekerasan yang tidak terdeteksi,” ujar Puji, Minggu (16/2/2025).
Untuk menekan angka kekerasan anak, ia menekankan pentingnya sosialisasi perlindungan anak yang lebih masif. Menurutnya, program perlindungan yang ada saat ini tidak akan efektif jika tidak diiringi dengan edukasi yang kuat kepada masyarakat.
“Program perlindungan anak harus lebih sering disosialisasikan agar masyarakat sadar dan paham bagaimana cara melindungi anak-anak dari kekerasan,” tegasnya.
Ia juga mendorong dinas terkait untuk lebih aktif melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah, terutama tingkat SD dan SMP. Penyuluhan ini dinilai sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya kekerasan seksual serta risiko seks di usia dini.
“Dinas terkait harus lebih giat masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi mengenai bahaya kekerasan seksual dan cara melindungi diri,” jelasnya.
Selain pendekatan langsung di lingkungan pendidikan, Puji juga menyarankan pemanfaatan media digital sebagai alat penyebaran informasi yang lebih luas.
Ia menekankan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.
“Keluarga memang menjadi garda terdepan, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan dalam menjaga anak-anak agar terhindar dari kekerasan. Ini adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya. (R)
