Timesnusantara.com — Samarinda. Aksi penertiban pedagang Pasar Subuh di Gang 3 Jalan Yos Sudarso yang dilakukan Pemerintah Kota Samarinda, Jumat lalu (9/5/2025), menyisakan kericuhan. Meski operasi berjalan sesuai agenda, insiden ini menimbulkan sorotan tajam dari kalangan legislatif.
Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Sani Bin Husain, angkat suara terkait hal tersebut. Ia meminta agar pemerintah kota dapat mengedepankan pendekatan yang lebih beretika dan humanis dalam menertibkan aktivitas pedagang kaki lima, terutama yang berasal dari kalangan ekonomi lemah.
“Mereka bukan pelanggar hukum, tapi warga yang tengah berjuang untuk hidup. Jangan samakan perlakuan terhadap mereka dengan pendekatan represif,” tegasnya, Senin (12/5/2025).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai, setiap aparat di lapangan, baik dari Satpol PP maupun kepolisian, seharusnya mampu membangun empati terhadap kondisi sosial masyarakat yang ditertibkan. Menurutnya, cara terbaik untuk menata kota adalah melalui komunikasi, bukan kekerasan.
Lebih lanjut, mantan Ketua Komisi IV DPRD itu mendorong Pemkot Samarinda untuk membangun ruang dialog aktif dengan para pedagang. Ia meyakini, penataan kota yang ideal hanya bisa dicapai jika seluruh pihak diajak duduk bersama mencari solusi.
“Pemerintah harus lebih sering turun berdiskusi, bukan sekadar menurunkan aparat. Kalau rencana penataan tidak disertai keterlibatan warga yang terdampak, hasilnya hanya akan menyisakan luka sosial,” katanya.
Sani bahkan mengingatkan aparat untuk memposisikan diri mereka secara lebih bijak saat menghadapi masyarakat. Ia menyampaikan pesan yang menggugah agar tindakan di lapangan tidak melukai nurani rakyat.
“Bayangkan pedagang itu adalah orang tua, saudara, atau anak Anda sendiri. Jangan sampai ada perlakuan yang menyakitkan. Kalau satu saja tersakiti, saya sebagai perwakilan mereka pun ikut terluka,” ucapnya tegas.
Ia menutup pernyataannya dengan kembali menyerukan perlunya pendekatan persuasif sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan penataan wilayah.
“Tertib boleh, tapi tetap manusiawi,” pungkasnya. (R)
