Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, menyampaikan kekhawatirannya terhadap tantangan pendidikan anak di era digital yang semakin kompleks. Menurutnya, fokus pendidikan selama ini terlalu tersentralisasi di lingkungan sekolah, sementara peran orang tua di rumah justru sering diabaikan.

Hal ini diungkapkan Ismail setelah mencuatnya kasus yang melibatkan seorang siswa sekolah dasar (SD) di Samarinda yang kedapatan mengakses konten dewasa melalui perangkat gawai. Kejadian tersebut, katanya, bukan hanya memperlihatkan lemahnya pengawasan teknologi, namun juga minimnya kesiapan orang tua dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Pendidikan formal itu penting, tapi mendampingi anak dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menggunakan teknologi, adalah tanggung jawab utama orang tua. Kalau tidak ada pemahaman yang cukup, maka anak-anak kita mudah sekali terpapar hal-hal negatif,” jelasnya, Selasa (13/5/2025).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu pun mengusulkan agar pemerintah kota dan institusi pendidikan lebih proaktif mengadakan program parenting atau pendidikan orang tua, khususnya terkait tantangan digital.

Ia menekankan perlunya pelatihan atau forum diskusi yang mampu meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka, baik secara mental maupun moral.

“Jangan sampai anak sudah dibekali pendidikan karakter di sekolah, tapi di rumah tidak mendapat dukungan yang sepadan. Ini bisa jadi kontraproduktif,” tambahnya.

Latisi juga menyoroti meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk di tingkat dasar dan menengah pertama. Menurutnya, permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan institusional, melainkan harus melibatkan keluarga sebagai unit pendidikan utama.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan persoalan ini sebagai tanggung jawab kolektif. Pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada guru atau sekolah semata, melainkan memerlukan kolaborasi erat antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat.

“Jangan sampai kita hanya menuntut anak-anak menjadi generasi emas, sementara orang tua mereka tidak pernah diberdayakan untuk turut mendidik. Ini perlu kita evaluasi bersama,” tutupnya. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *