Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Sekolah sejatinya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan membentuk karakter. Namun, kepercayaan terhadap institusi pendidikan di Samarinda baru-baru ini terguncang, menyusul kasus pencabulan yang melibatkan seorang tenaga pendidik terhadap siswanya sendiri.

Menyikapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Sani Bin Husain, mengungkapkan keprihatinan mendalam. Ia menekankan bahwa profesi guru mengemban tanggung jawab moral yang besar, bukan sekadar tugas akademik.

“Dalam budaya Sunda dan Jawa, ‘guru’ berarti digugu lan ditiru—dipercaya dan dijadikan teladan. Bukan hanya sekadar hadir mengajar, tetapi menjadi sosok panutan yang layak ditiru oleh murid-muridnya,” ujar Sani.

Sani menegaskan bahwa jika ada oknum guru yang mencederai kepercayaan ini, maka sudah sepatutnya dikenai sanksi tegas. Menurutnya, tindakan seperti itu tak hanya mencoreng nama baik sekolah, melainkan juga meninggalkan luka psikologis mendalam pada korban.

“Tidak boleh ada toleransi. Pelanggaran semacam ini harus disikapi serius, demi menjaga marwah dunia pendidikan kita,” tegasnya.

Menyadari pentingnya pencegahan, Sani juga mendorong pihak sekolah untuk memperketat sistem pengawasan. Ia menilai bahwa kolaborasi antara pihak sekolah, komite, dan orang tua menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

“Komite sekolah harus lebih berperan aktif, dan para orang tua juga perlu dilibatkan dalam pengawasan. Ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tapi kerja bersama,” katanya.

Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini memastikan bahwa DPRD Samarinda akan memonitor secara ketat proses hukum atas kasus yang terjadi. Ia menekankan, jika terbukti bersalah, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

“Kita ingin memastikan keadilan ditegakkan. Tidak boleh ada pihak yang dirugikan, apalagi korban yang sudah mengalami trauma,” tuturnya.

Sani juga mengingatkan bahwa rasa aman di sekolah bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat mutlak agar proses belajar mengajar berjalan optimal. Ia mengajak semua pihak untuk tidak membiarkan satu kasus mencoreng komitmen besar membangun generasi masa depan.

“Kalau sekolah sudah aman, anak-anak kita akan lebih semangat menuntut ilmu. Tapi jika rasa takut masih menghantui, bagaimana mereka bisa berkembang dengan baik?” pungkasnya. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *