Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Legislator Kalimantan Timur (Kaltim) dari Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menyuarakan keresahannya terhadap arah kebijakan pendidikan nasional yang dianggap terlalu berorientasi pada pola pikir pendidikan luar negeri, khususnya Barat.

Ia menilai, sistem kurikulum yang saat ini diterapkan belum mencerminkan keunikan identitas bangsa Indonesia, bahkan cenderung menjauhkan peserta didik dari nilai-nilai lokal yang membentuk jati diri nasional.

“Kita punya sejarah dan struktur sosial sendiri. Pendidikan tidak bisa sekadar mengadopsi sistem asing yang tidak relevan dengan realitas kita,” tegas Agusriansyah, Minggu (1/6/2025).

Sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ia mendorong agar kurikulum dirancang berdasarkan akar budaya bangsa, bukan hanya sekadar mengimpor model pendidikan dari luar tanpa adaptasi. Menurutnya, orientasi pendidikan seharusnya mengarah pada pembentukan karakter bangsa dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.

“Kalau kurikulum tidak berpijak pada konteks lokal, siswa justru merasa seperti orang asing di tanah sendiri. Pendidikan harus mengakar, bukan melayang-layang mengikuti arus global semata,” ucapnya.

Lebih jauh, Agusriansyah menyerukan perlunya reformulasi kurikulum yang menyesuaikan dengan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini dan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal penguasaan teori, tapi juga soal penanaman karakter.

Selain menyoroti soal pendidikan, Agusriansyah turut menyampaikan kegelisahannya terhadap rendahnya partisipasi pemuda dalam politik. Ia menilai, keterlibatan generasi muda sangat penting dalam membentuk kebijakan publik yang inklusif dan progresif.

“Seluruh keputusan politik berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Kalau pemuda diam, perubahan tak akan pernah terjadi,” kata dia.

Ia juga mengingatkan pentingnya peningkatan literasi digital, bukan sekadar dalam hal keterampilan teknologi, tetapi juga kemampuan memilah informasi dan menjunjung etika dalam berinteraksi di ruang digital.

“Cerdas itu penting, tapi cerdas saja tidak cukup. Moral dan etika harus jalan beriringan. Pendidikan sejati itu membentuk manusia utuh, bukan sekadar pintar, tapi juga berintegritas,” tuturnya.

Agusriansyah berharap generasi muda Indonesia bisa tampil sebagai garda terdepan perubahan, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dalam menghadapi arus globalisasi dan era digital. (Adv/dprdkaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *