Timesnusantara.com – Kukar. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjamin bahwa investasi karbon yang dikerjasamakan dengan PT Tirta Carbon Indonesia bukanlah proyek eksploitatif, melainkan bentuk transformasi pembangunan berbasis konservasi.
Penegasan ini disampaikan langsung oleh Bupati Kukar, Edi Damansyah, yang menyoroti pentingnya rehabilitasi lingkungan serta keterlibatan aktif masyarakat dalam proyek karbon tersebut.
Menurut Edi, kawasan yang selama ini rusak atau terpinggirkan justru akan direstorasi lewat program perdagangan karbon, tanpa harus mengorbankan hak masyarakat adat maupun penghidupan tradisional.
“Kalau lingkungannya selama ini kurang bagus, maka lewat program ini justru akan diperbaiki,” tegas Edi saat menyampaikan keterangan pers, baru-baru ini.
Ia memastikan, kegiatan ekonomi lokal seperti perikanan tangkap tetap diperbolehkan, selama tidak bertentangan dengan prinsip konservasi.
Bahkan, warga akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas proyek, mulai dari penanaman kembali hingga patroli kawasan, yang secara langsung membuka peluang kerja baru yang ramah lingkungan.
Bupati Edi juga menekankan perlunya keterlibatan semua pihak, baik pemerintah desa hingga BPD, untuk memastikan agar program ini berjalan transparan dan sesuai perjanjian.
Menurutnya, kesenjangan antara narasi perusahaan dan pelaksanaan lapangan harus dihindari demi kepercayaan publik.
“Jangan sampai program ini tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh pimpinan perusahaan, karena ini menyangkut hajat banyak orang,” ujarnya.
Dibandingkan model investasi sebelumnya seperti kelapa sawit atau tambang batu bara yang cenderung mengabaikan aspek keberlanjutan, Edi menyebut program ini sebagai bentuk investasi hijau yang tidak mengambil alih lahan masyarakat.
Sebaliknya, pendekatan restoratif dan partisipatif yang diterapkan diyakini lebih menguntungkan warga dalam jangka panjang.
“Ini berbeda dengan investasi sawit atau batu bara. Di sini tidak ada proses pelepasan hak masyarakat. Justru kita memperbaiki kawasan yang selama ini kurang termanfaatkan,” tegasnya lagi.
Dengan cakupan yang luas di wilayah utara Kukar, Edi berharap program ini menjadi titik balik arah pembangunan daerah dari model eksploitatif ke arah yang lebih berkeadilan, berwawasan lingkungan, dan berbasis kolaborasi.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, baik struktural maupun kultural, untuk ikut mengawal dan menyukseskan program ini.
“Saya mohon dukungan dari semua pihak agar rencana investasi perdagangan karbon di wilayah utara Kutai Kartanegara dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
