Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Wacana pembangunan kawasan bertema Chinatown di Kota Samarinda mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Samarinda.

Legislator M. Andriansyah mengingatkan agar proyek ini tak berhenti sebagai gimik wisata yang hanya bagus di gambar, tapi minim dampak bagi warga.

“Kita tak butuh kawasan yang hanya ramai saat diresmikan, lalu jadi sepi dan mati suri. Chinatown ini harus jadi penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar pajangan,” tegas Andriansyah, Sabtu (21/6/2025).

Ia menyoroti fenomena umum di berbagai daerah, di mana banyak proyek wisata ambisius justru kehilangan ruh karena tidak melibatkan komunitas dan tidak punya arah jangka panjang.

Menurutnya, kekuatan kawasan tematik seperti Chinatown justru ada pada kehidupan di dalamnya, seperti interaksi budaya, geliat UMKM, aktivitas kuliner, dan keterlibatan masyarakat yang membuatnya hidup.

“Ini bukan soal cat merah dan lampion. Kita bicara bagaimana tempat ini menjadi ruang hidup budaya, tempat orang berinteraksi, berjualan, dan membangun ekosistem ekonomi baru,” jelasnya.

Andriansyah mengingatkan bahwa komunitas Tionghoa di Samarinda selama ini memiliki kontribusi nyata dalam ekonomi dan budaya lokal.

Oleh karena itu, keterlibatan mereka dalam penyusunan konsep dan desain kawasan sangat penting.

“Jangan sampai komunitas yang seharusnya jadi roh kawasan malah terpinggirkan. Pemkot harus buka ruang dialog sejak awal,” tambahnya.

Ia juga menyarankan agar pengembangan kawasan tidak hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan menggandeng pelaku ekonomi kreatif, akademisi, hingga investor lokal agar hasilnya tidak setengah hati.

Lebih lanjut, Andriansyah menilai bahwa momen ini bisa menjadi tonggak awal pergeseran ekonomi Samarinda dari ketergantungan pada sektor tambang menuju ekonomi kreatif dan pariwisata.

“Kalau ini dikerjakan serius, Chinatown bisa jadi simbol transformasi ekonomi kota. Tapi kalau asal-asalan, ya nasibnya akan sama seperti proyek lain: indah di awal, sunyi kemudian,” ujarnya.

Sebagai anggota DPRD, ia menyatakan komitmennya untuk terus mengawal proyek ini, agar tidak berhenti pada ide konsep atau proyek seremonial yang hanya laku untuk foto-foto promosi.

“Kita butuh roadmap yang jelas, strategi pengembangan yang matang, dan pelibatan warga sejak awal. Hanya dengan itu, Chinatown bisa jadi denyut baru bagi ekonomi Samarinda,” pungkasnya. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *