Timesnusantara.com – Kukar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara berencana melaksanakan studi banding ke sekolah inklusi bagi sejumlah guru SD dari berbagai kecamatan.
Namun, kegiatan yang semula dirancang sebagai program magang selama satu bulan ini terpaksa dipangkas menjadi hanya tiga hari akibat keterbatasan anggaran.
Kasi Pengembangan Sarana dan Prasarana SD Disdikbud Kukar, Al Adawiyah, menyebutkan bahwa studi banding tersebut akan dilaksanakan pada Juli mendatang.
Kegiatan ini diikuti lima orang peserta, terdiri dari kepala sekolah dan guru dari Tenggarong serta beberapa kecamatan lain.
“Mereka seharusnya menjalani magang selama satu bulan untuk mempelajari penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK). Tapi setelah kami lihat RKA, ternyata hanya bisa dilakukan selama tiga hari,” ujarnya.
Dengan sisa waktu yang terbatas, Al Adawiyah menyebut peserta kemungkinan hanya memiliki waktu efektif dua hari untuk belajar langsung tentang metode pembelajaran anak-anak ABK di sekolah inklusi.
Meski demikian, ia menekankan kegiatan ini diharuskan dapat membekali guru dengan pemahaman dasar pendidikan inklusif. Terlebih, sumber daya manusia dalam penanganan ABK di Kukar masih sangat terbatas.
“Kegiatan ini tetap penting, meskipun waktunya singkat. Guru-guru akan melihat langsung proses pembelajaran untuk ABK, dan sepulangnya nanti mereka akan menyosialisasikan hasilnya ke sekolah-sekolah di kecamatan masing-masing,” jelasnya.
Disdikbud Kukar berharap agar pelatihan sejenis bisa terus ditingkatkan, karena menyangkut kualitas layanan pendidikan bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
(Adv. R)
