Timesnusantara.com – Kukar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara (Disdikbud Kukar) memperluas distribusi bantuan sarana pendidikan berbasis digital ke sekolah-sekolah dasar (SD). Fokus utama saat ini adalah pemenuhan kebutuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti Chromebook, yang telah menyentuh hampir seluruh sekolah di Kukar.
Kasi Pengembangan Sarana dan Prasarana SD Disdikbud Kukar, Al Adawiyah, mengatakan bahwa sejak tahun 2020, pemerintah secara bertahap telah mengalokasikan perangkat Chromebook untuk mendukung pelaksanaan asesmen dan ujian digital.
“Ujian sekarang sudah diwajibkan menggunakan Chromebook, baik secara online maupun offline. Awalnya bantuan dari pusat melalui DAK, tapi karena tidak mencakup semua sekolah, kami tambahkan lewat APBD,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pemenuhan perangkat tersebut telah menyasar siswa kelas tinggi, mulai dari kelas 4 hingga kelas 6, di hampir semua kecamatan di Kukar.
Bantuan ini juga dilengkapi dengan pelatihan dan dukungan infrastruktur, termasuk jaringan internet yang disediakan oleh Diskominfo Kukar.
“Untuk jaringan internet, hampir semua kecamatan sudah cukup bagus. Tapi di beberapa wilayah seperti Tabang, kami masih perlu tambahan pelatihan bagi guru agar lebih siap memanfaatkan perangkat ini,” jelasnya.
Selain pengadaan Chromebook, bantuan lain yang disalurkan meliputi mebeler, alat olahraga, tenda pramuka, serta laptop untuk kebutuhan administrasi sekolah. Laptop ini diberikan kepada bendahara, kepala sekolah, dan tenaga tata usaha guna memperlancar pekerjaan harian.
“Guru-guru yang awalnya kesulitan menggunakan laptop, sekarang sudah terbiasa. Mereka bisa cari bahan ajar langsung dan pekerjaannya jadi lebih ringan,” tambahnya.
Al Adawiyah menegaskan bahwa distribusi bantuan diupayakan merata ke seluruh 20 kecamatan, meskipun bentuk bantuannya bisa berbeda. Tidak semua mendapatkan pembangunan ruang kelas, tapi setidaknya ada intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap sekolah.
“Prinsipnya pemerataan. Ada sekolah yang dapat ruang kelas, ada yang dapat Chromebook atau alat olahraga. Semua kami sesuaikan dengan kebutuhan dan skala prioritas,” terangnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa pembangunan ruang kelas masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Banyak sekolah yang belum memiliki jumlah ruang belajar yang cukup, dan beberapa masih menggunakan sistem shift.
“Kalau anggaran memungkinkan, kami ingin tuntaskan pembangunan ruang kelas dan rehabilitasinya. Ini yang paling mendesak di seluruh kecamatan,” tutupnya.
(Adv. R)
