Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Pasar Segiri, salah satu pusat perdagangan terbesar di Kota Samarinda, masih bergulat dengan masalah lama yang tak kunjung tuntas. Kemacetan akibat parkir liar dan kawasan yang terkesan semrawut terus menjadi pemandangan sehari-hari meski pemerintah telah berupaya melakukan pembenahan.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Maswedi, menilai persoalan parkir yang belum teratasi sepenuhnya menjadi pemicu utama kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut.

Ia mengatakan, kapasitas gedung parkir yang ada saat ini belum mampu menampung lonjakan kendaraan, terutama di jam-jam sibuk.

“Gedung parkir sudah dibangun, tapi volumenya belum cukup. Pengunjung Segiri itu banyak sekali. Jadi akhirnya tetap saja orang parkir sembarangan di pinggir jalan,” kata Maswedi, Senin (30/6/25).

Masalah ini bukan hanya soal minimnya fasilitas. Maswedi menilai, perilaku masyarakat juga berperan besar. Banyak warga lebih memilih parkir sembarangan karena dianggap lebih praktis dan cepat ketimbang memarkir kendaraan di lantai atas atau bawah gedung Segiri Grosir Samarinda (SGS).

“Mereka cari yang gampang saja, supaya cepat masuk ke pasar. Akhirnya, yang repot ya kita semua karena bikin macet,” jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan itu, Maswedi tetap memberikan apresiasi atas upaya Pemkot Samarinda dalam menata kawasan Pasar Segiri.

Ia menilai, relokasi warga yang bermukim di bantaran sungai serta penertiban kawasan hijau di sekitar SGS sudah menunjukkan hasil positif.

“Kawasan kumuh di sekitar pasar memang mulai berkurang. Pemerintah sudah mulai relokasi dan menertibkan bantaran sungai. Ruang terbuka hijau juga mulai dibenahi,” ucapnya.

Bagi Maswedi, penataan kawasan pasar bukan semata soal keindahan kota. Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih tertib, sehat, dan ramah lingkungan.

Ia mendorong agar relokasi lapak pedagang dan penataan ruang publik terus dilanjutkan sebagai bagian dari rencana jangka panjang menjadikan Pasar Segiri tak hanya sebagai pusat transaksi, tetapi juga ruang publik yang nyaman bagi semua lapisan masyarakat.

“Pasar itu nggak hanya tempat jual beli, tapi juga ruang hidup warga. Jadi, penting agar tata kelolanya dibuat lebih tertib, bersih, dan ramah bagi semua orang,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa proses pembenahan kawasan seperti Segiri tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Sebagai pasar rakyat utama di Samarinda, penataan harus dilakukan secara bertahap dan mempertimbangkan kepentingan semua pihak.

“Ini kan pusat ekonomi masyarakat, jadi nggak mungkin langsung berubah dalam semalam. Perlu waktu dan kesabaran untuk merapikan semuanya,” tutupnya. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *