Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Di balik pesatnya pembangunan fisik di Kota Samarinda, masih terselip deretan persoalan mendasar yang tak kunjung terselesaikan.

Sorotan tajam datang dari anggota DPRD Samarinda, Anhar, yang menilai arah kebijakan Pemkot masih jauh dari kata tuntas dalam menjawab kebutuhan warga sehari-hari.

“Setiap kali hujan deras, kerusakan infrastruktur selalu berulang. Terowongan longsor, banjir kembali di titik yang sama. Ini masalah lama yang belum juga selesai,” tegas Anhar, Senin (30/6/25).

Ia mempertanyakan perencanaan pembangunan yang terkesan hanya mengejar hasil fisik tanpa memperhatikan hal-hal mendasar seperti sistem drainase dan tata ruang yang berkelanjutan.

Menurutnya, banyak proyek besar rampung dibangun, namun gagal bertahan menghadapi musim hujan karena lemahnya antisipasi sejak awal.

Anhar juga menyinggung soal banjir yang hingga kini belum teratasi secara serius. Ia menduga, pembukaan lahan dan pematangan kawasan baru selama ini justru dilegalkan melalui penerbitan izin resmi, namun pengawasannya lemah hingga dampak lingkungannya diabaikan.

Tak ketinggalan, persoalan drainase menjadi sorotan penting. Ia menilai, banyak parit yang justru terkubur atau lebih rendah dari badan jalan, sehingga fungsinya tidak maksimal.

“Bagaimana air mau mengalir kalau paritnya malah lebih rendah. Ini bukan hanya soal salah desain, tapi pengawasan yang lemah dari awal,” tandasnya.

Selain itu, lambannya pemerataan infrastruktur dasar seperti listrik dan penerangan jalan juga mendapat kritik tajam.

Padahal, menurut Anhar, sektor-sektor itu turut menyumbang pendapatan bagi daerah, tetapi manfaatnya belum merata dirasakan masyarakat.

“Jangan hanya membanggakan gedung tinggi, pasar megah, atau terowongan mahal. Kalau jalan rusak terus, banjir datang lagi, dan warga masih hidup dalam gelap tanpa lampu jalan, semua itu sia-sia,” katanya.

Ia juga menyoroti pembangunan patung pesut yang menelan anggaran lebih dari satu miliar rupiah.

Menurutnya, proyek semacam ini tidak mendesak dan tidak berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

“Kalau mau mempercantik kota, mulai dulu dari memperbaiki yang paling mendesak. Patung itu manfaatnya apa? Bentuknya pun belum tentu menyerupai pesut yang asli,” sindirnya.

Bagi Anhar, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari nilai proyek atau keindahan fisik kota, tetapi dari sejauh mana persoalan mendasar warga diselesaikan dengan tuntas. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *