Timesnusantara.com — Samarinda. Masalah ketimpangan pembangunan infrastruktur pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menjadi sorotan tajam. Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menilai hingga kini masih banyak sekolah di daerah terpencil yang dibangun megah, tetapi tak dilengkapi dengan akses jalan yang layak.
Kondisi tersebut dianggap menjadi ironi dalam upaya pemerataan pendidikan. Sekolah sudah berdiri, namun akses untuk siswa dan guru masih sulit dijangkau. Hal ini kerap memicu persoalan klasik, terutama saat penerimaan peserta didik baru di kawasan pedalaman.
“Jangan bangun sekolah hanya untuk dilihat bagusnya saja. Kalau jalannya rusak, bahkan tidak ada, siswa mau lewat mana? Ini yang harus dipikirkan bersama,” tegas Agusriansyah, Kamis (10/7/2025).
Ia menegaskan, pembangunan fasilitas pendidikan harus terintegrasi dengan pembangunan infrastruktur dasar lain seperti jalan, transportasi, bahkan dukungan pemenuhan gizi bagi siswa di wilayah sulit.
Baginya, membangun sekolah di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) tidak cukup hanya membangun gedung, tetapi perlu pendekatan kawasan terpadu.
“Anak-anak di desa berhak sekolah dengan nyaman. Mereka berhak atas layanan pendidikan yang sama baiknya dengan anak-anak di kota. Kalau tempat tinggal mereka jauh dan jalannya rusak, masa kita biarkan mereka putus sekolah?” tuturnya.
Agusriansyah mendorong adanya sinergi lintas sektor, baik antara pemerintah provinsi, kabupaten, maupun desa, agar pembangunan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan. Tanpa integrasi perencanaan, kata dia, pembangunan hanya bersifat parsial dan tidak menyelesaikan akar persoalan.
“Harus satu paket. Bangun sekolahnya, siapkan jalannya, siapkan asramanya, pastikan gizinya. Kalau semua jalan, saya yakin tidak ada lagi anak-anak yang tertinggal hanya karena jarak,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar mengevaluasi total kebijakan pembangunan pendidikan. Perencanaan mesti berbasis kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar target pembangunan fisik semata.
“Ini soal masa depan generasi kita. Jangan bangun setengah-setengah. Jangan biarkan ada sekolah megah yang sunyi karena tak ada murid yang mampu datang ke sana,” pungkasnya. (Adv/dprdkaltim)
