Timesnusantara.com — Samarinda. Ketua Bapemperda DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Baharuddin Demmu, menyerukan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengutamakan capaian akademis, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang kuat, berakhlak, dan berwawasan kebangsaan.
Di tengah arus deras globalisasi dan digitalisasi, Baharuddin menilai bahwa sistem pendidikan di Kalimantan Timur perlu lebih membumi.
Ia menekankan, pembangunan sumber daya manusia harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, budaya daerah, dan semangat keberagaman yang dimiliki Benua Etam.
“Yang dibutuhkan Kalimantan Timur bukan sekadar generasi pintar, tetapi mereka yang punya integritas, peduli pada lingkungan sosialnya, dan memiliki rasa cinta terhadap daerah asal,” kata Baharuddin, Minggu (13/7/2025).
Menurutnya, saat ini DPRD tengah menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait penyelenggaraan pendidikan yang disusun tidak hanya untuk menyempurnakan regulasi sebelumnya, tetapi juga sebagai kerangka baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan zaman serta realitas lokal.
Ia menyoroti bahwa transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada modernisasi teknologi atau pembaruan kurikulum.
Nilai-nilai budaya seperti sejarah lokal, identitas masyarakat adat, serta kearifan tradisional harus terintegrasi dalam proses belajar-mengajar.
“Anak-anak perlu dibekali cerita tentang Mahakam, budaya Dayak, tradisi pesisir Berau, atau nilai gotong royong masyarakat kita. Itu bukan pelengkap, tapi elemen penting dalam membentuk jati diri,” tegasnya.
Lebih jauh, Baharuddin mengangkat isu kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
Ia menilai pemerataan akses pendidikan, terutama dari sisi kualitas tenaga pendidik, infrastruktur, dan teknologi, harus menjadi prioritas.
“Kita tidak boleh membiarkan pendidikan hanya tumbuh di Samarinda atau Balikpapan, sementara anak-anak di Long Apari, Karangan, atau Sangkulirang tertinggal. Pendidikan harus hadir di seluruh penjuru,” ujarnya.
Ia menambahkan, Raperda tersebut juga dirancang inklusif agar menjangkau komunitas adat, wilayah rawan bencana, hingga pendidikan nonformal. Tujuannya agar semua elemen masyarakat bisa mendapatkan hak pendidikan yang layak dan bermakna.
Menurut Baharuddin, membangun karakter dan menghidupkan kembali kearifan lokal dalam pendidikan adalah strategi jangka panjang yang penting bagi Kaltim. Terlebih dengan hadirnya Ibu Kota Negara (IKN), ia menilai generasi muda harus disiapkan dengan identitas yang kokoh agar tidak tergerus zaman.
“Kalau sejak dini mereka mengenal siapa dirinya, memahami budayanya, dan cinta tanah kelahiran, maka ketika tantangan datang, mereka siap jadi pelindung dan penggerak pembangunan,” pungkasnya. (Adv/dprdkaltim)
