Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Maraknya penolakan vaksin di sejumlah daerah membuat Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mengambil langkah serius untuk menepis berbagai kesalahpahaman publik, khususnya terkait bahan kimia dalam vaksin.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menuturkan bahwa banyak masyarakat masih memiliki persepsi keliru tentang makna ‘kimia’. Istilah tersebut sering kali langsung dikaitkan dengan racun atau sesuatu yang membahayakan tubuh.

“Padahal, semua yang kita konsumsi sehari-hari—termasuk makanan, minuman, hingga jamu tradisional, terbuat dari zat kimia. Bahkan air pun, secara ilmiah, merupakan senyawa kimia bernama H₂O,” ujarnya, Minggu (13/7/2025).

Jaya menyayangkan bahwa pemahaman publik terhadap istilah kimia masih minim. Akibatnya, istilah teknis kerap menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar. Misalnya, air terasa aman dikonsumsi, tetapi jika disebut dengan istilah H₂O, masyarakat menjadi ragu meski merujuk pada hal yang sama.

Ia juga menekankan bahwa label ‘herbal’ atau ‘alami’ tidak serta-merta berarti produk tersebut bebas dari kandungan kimia. Semua zat, baik berasal dari alam maupun hasil sintesis terdiri dari unsur kimia dan akan menimbulkan efek yang bergantung pada dosis serta cara pemakaian.

“Banyak yang berpikir obat herbal tidak mengandung kimia, itu jelas keliru. Semua hal di sekitar kita adalah hasil dari proses kimiawi,” tegasnya.

Miskonsepsi ini, lanjut Jaya, turut memperkuat penolakan terhadap vaksin, terutama di kalangan orang tua yang masih sangat mengandalkan metode penyembuhan tradisional.

Salah satu vaksin yang kerap disalahpahami adalah Hexavalent, yang sebenarnya berfungsi melindungi anak-anak dari enam penyakit sekaligus: difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, polio, dan infeksi Hib.

Sebagian pihak meragukan kandungan vaksin karena istilah ilmiah yang melekat padanya. Namun Jaya memastikan bahwa vaksin-vaksin tersebut telah melewati tahapan uji keamanan dan efektivitas yang sangat ketat.

“Narasi bahwa vaksin hanya produk industri untuk meraup keuntungan adalah informasi menyesatkan. Faktanya, vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa di berbagai belahan dunia,” tegasnya.

Untuk membumikan konsep kerja vaksin, Jaya memberikan perumpamaan sederhana. Vaksin diibaratkan sebagai pelatihan militer bagi tubuh: sistem imun diperkenalkan pada versi lemah dari patogen agar dapat mengenalinya dan membentuk perlindungan ketika serangan nyata terjadi.

“Kalau tubuh tidak pernah diperkenalkan sebelumnya, ia butuh waktu untuk mengenali. Tapi dengan vaksin, tubuh punya ‘pengalaman’ yang bisa mempercepat respon,” jelasnya.

Dengan pendekatan edukatif seperti ini, Dinkes Kaltim ingin meruntuhkan mitos yang membayangi vaksinasi dan istilah kimia. Pesan utamanya: kimia adalah bagian dari kehidupan, dan vaksin adalah hasil dari kemajuan sains untuk menjaga masa depan generasi.

“Ilmu pengetahuan telah memberikan kita alat untuk melindungi diri. Mari kita gunakan dengan bijak dan percaya pada bukti ilmiah,” tutup Jaya.
(Adv Diskominfo Kaltim)

Penulis: Rey | Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *