Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Transformasi layanan perpustakaan di Kota Samarinda mendapat perhatian dari Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. Dalam kunjungan terbarunya ke gedung baru Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Jumat (18/7/2025), ia menilai perkembangan fasilitas sudah jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya.

Menurut Sri, kemajuan terlihat dari berbagai aspek, mulai dari infrastruktur hingga dukungan teknologi digital yang kini tersedia untuk publik.

“Sejak pertama saya duduk di DPR, kondisi perpustakaan sudah jauh berubah. Kini, layanan digitalisasi dan fasilitas e-book sudah tersedia, dan itu langkah maju yang patut diapresiasi,” ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa sumber daya manusia (SDM) di instansi tersebut pun menunjukkan peningkatan kualitas. Penambahan jumlah pegawai dan perubahan sistem layanan membuat suasana perpustakaan menjadi lebih terbuka dan profesional.

“Selain bangunan baru yang representatif, pegawainya juga lebih siap melayani. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa membuat fasilitas ini lebih dekat ke masyarakat,” lanjutnya.

Sri menekankan pentingnya pemanfaatan ruang-ruang publik untuk mengenalkan kembali perpustakaan kepada warga, khususnya generasi muda. Ia memberikan contoh kegiatan yang dilakukan oleh Dharma Wanita dan BP PAUD yang aktif menggelar acara edukatif sebagai bagian dari promosi literasi.

“Upaya seperti memanfaatkan ruang umum di perpustakaan atau bahkan ruang sidang DPRD untuk kegiatan pengenalan itu bagus. Ini bisa jadi pintu masuk agar masyarakat tertarik datang ke perpustakaan,” ujarnya.

Namun demikian, ia tidak menampik masih adanya tantangan dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Salah satu hambatan terbesar, menurutnya, adalah kurangnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka mengakses fasilitas ini.

“Kita tidak bisa berharap semua orang langsung datang. Ketertarikan dari orang tua juga terbatas. Padahal anak-anak sangat perlu didorong untuk mengenal dunia literasi sejak dini,” jelasnya.

Sri berharap ke depan, pendekatan yang lebih inovatif dan melibatkan berbagai komunitas bisa dilakukan agar keberadaan perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga ruang interaksi, pembelajaran, dan tumbuhnya budaya membaca.

“Dengan fasilitas dan teknologi yang sudah ada, tinggal bagaimana kita menghidupkan suasana literasi itu lewat kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Adv/dprdsamarinda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *