Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Ketimpangan akses listrik masih menjadi masalah krusial di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Meski wilayah ini kaya akan potensi alam, puluhan desa masih belum merasakan penerangan memadai dari PLN.

Dari 141 desa yang tersebar di Kutai Timur, tercatat 26 desa belum terjamah jaringan listrik PLN sama sekali. Bahkan di sejumlah desa yang telah tersambung, seperti Manubar dan Manubar Dalam di Kecamatan Sandaran, distribusi listrik masih terbatas hanya aktif 12 jam dalam sehari sejak tahun lalu.

PLN menargetkan elektrifikasi menyeluruh di wilayah ini dapat tuntas pada 2027 melalui skema nasional yang mengandalkan dana APBN. Namun, pemerintah daerah tidak tinggal diam dan mulai menjajaki berbagai sumber energi alternatif untuk mempercepat pemerataan akses listrik.

Salah satu pendekatan yang kini mulai dilirik adalah pemanfaatan daya lebih (excess power) dari pabrik kelapa sawit. PT Bumi Mas Agro (BMA), salah satu perusahaan sawit di wilayah itu, disebut memiliki kelebihan daya sekitar 1 megawatt. Daya tersebut diyakini mampu menyokong kebutuhan listrik di tujuh desa sekitar, melalui sistem jaringan perusahaan yang dikoneksikan ke infrastruktur PLN.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyambut positif langkah sinergis ini. Menurutnya, industri sawit tak hanya berperan dalam menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penghasil energi alternatif.

“Limbah dari kelapa sawit seperti tandan kosong, cangkang, maupun POME (limbah cair kelapa sawit), bisa kita ubah menjadi energi. Ini bukan hanya solusi untuk krisis listrik, tapi juga bagian dari komitmen menuju pembangunan berkelanjutan,” ujar Rudy.

Ia menambahkan, transformasi limbah menjadi energi membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemangku kepentingan, pelaku industri, dan investor.

“Limbah sawit kita melimpah. Sudah waktunya limbah ini kita manfaatkan, bukan dibuang. Jadikan energi untuk masyarakat, bukan sekadar sampah,” tegasnya.

Saat ini, ada sekitar 40 pabrik kelapa sawit beroperasi di Kutai Timur, dengan kapasitas pengolahan mencapai 2.200 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Angka ini menunjukkan besarnya peluang untuk mendorong agenda elektrifikasi desa dengan pendekatan ramah lingkungan dan berbasis komoditas lokal. (Adv Diskominfo Kaltim)

Penulis: Rey | Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *