Timesnusantara.com — Samarinda. Perubahan cuaca ekstrem yang melanda Kota Samarinda dalam beberapa waktu terakhir membuka kembali persoalan mendasar terkait kesiapsiagaan bencana.
Sorotan datang dari DPRD Kota Samarinda, yang menilai bahwa pemerintah belum sepenuhnya serius dalam memberdayakan Kelurahan Tanggap Bencana (Katana) sebagai garda terdepan penanganan darurat di lingkungan masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Andriansyah, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi para relawan yang hingga kini masih menjalankan tugas tanpa sokongan yang layak.
Ia menyebut, peran strategis mereka kerap kali hanya diakui di atas kertas, tanpa diimbangi pelatihan teknis maupun peralatan lapangan yang memadai.
“Relawan sudah diberi status, tapi kenyataannya tak dibekali dengan alat, seragam, bahkan pelatihan berjenjang. Ini mencerminkan bahwa komitmen Pemkot masih setengah hati,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut, Jum’at (25/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa banyak relawan di lapangan bekerja dalam keterbatasan, mulai dari ketiadaan rompi identitas, perlengkapan evakuasi darurat, hingga kurangnya pemahaman prosedur tanggap bencana akibat tidak adanya pelatihan lanjutan.
Padahal, menurutnya, mereka adalah pihak yang pertama kali hadir saat bencana melanda, jauh sebelum bantuan resmi datang dari instansi terkait.
Karena itu, Andriansyah mendesak agar program pelatihan dan pengadaan logistik tanggap bencana dijadikan agenda prioritas tahunan, bukan hanya menjadi formalitas di laporan kegiatan.
Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya membangun budaya tanggap bencana yang dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
“Kesadaran terhadap bencana jangan hanya muncul saat musibah datang. Harus ada edukasi berkelanjutan agar kesiapsiagaan menjadi bagian dari kebiasaan,” pungkasnya. (Adv/dprdsamarinda)
