Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Wacana pemanfaatan sungai di Kota Samarinda sebagai jalur transportasi alternatif dan destinasi wisata kembali mencuat. DPRD Kota Samarinda mendorong konsep ini sebagai solusi konkret untuk mengatasi persoalan kemacetan sekaligus menjaga kelestarian sumber air baku yang kian terancam.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, menyatakan bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada transportasi darat selama ini menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di kota.

“Kita terlalu berfokus pada jalur darat. Padahal sungai bisa jadi pilihan lain, bahkan punya nilai wisata,” ujar Abdul Rohim, Kamis (7/8/2025).

Menurutnya, revitalisasi fungsi sungai bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kedekatan masyarakat dengan lingkungan perairan.

Pemanfaatan sungai sebagai jalur wisata air, katanya, akan mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Dengan demikian, keberlangsungan air baku juga ikut terjaga.

“Kalau sungai kita fungsikan dengan baik, masyarakat otomatis akan lebih peduli. Kebersihan sungai terjaga, dan air baku bisa tetap kita andalkan,” katanya.

Ia menyebutkan Sungai Mahakam dan Karang Mumus sebagai dua di antara aset air yang strategis bagi Samarinda. Selain memiliki nilai historis dan ekonomi, kedua sungai ini berperan besar dalam penyediaan air bersih bagi warga kota.

Namun, Rohim mengingatkan bahwa ancaman pencemaran dan sedimentasi sungai tidak bisa dianggap enteng.

Ia menyinggung kondisi Bendungan Benanga yang mulai terdampak penurunan debit akibat peningkatan sedimentasi.

“Kalau pencemaran terus dibiarkan dan endapan semakin tebal, lima sampai sepuluh tahun ke depan kita bisa alami krisis air bersih. Bahkan sekarang saja PDAM sudah kesulitan mendapatkan pasokan dari Benanga,” ucapnya.

Abdul Rohim berharap Pemerintah Kota Samarinda segera menyusun langkah konkret dan berkelanjutan dalam pengelolaan sungai.

Ia menekankan bahwa rencana tersebut harus mengedepankan fungsi ganda sungai sebagai jalur transportasi, ruang wisata, sekaligus sumber kehidupan.

“Kita perlu pendekatan menyeluruh agar sungai tidak hanya jadi simbol, tapi benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi kota ini,” tutupnya. (Adv/dprdsamarinda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *