Samarinda – Minimnya fasilitas akuatik di Samarinda mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah cepat. Dengan tidak adanya satu pun kolam renang berstandar nasional di ibu kota provinsi, Pemprov menempatkan pembangunan fasilitas baru sebagai prioritas tahun depan, terutama untuk memperkuat pembinaan atlet menuju ajang nasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispora Kaltim, H M Faisal, menegaskan bahwa ketiadaan sarana latihan yang memadai membuat atlet renang Samarinda terpaksa berpindah latihan ke Kutai Kartanegara atau Balikpapan.
“Target tahun depan kami fokus pada pembinaan atlet berpotensi emas. Salah satu langkah penting adalah memperbaiki fasilitas kolam renang,” ujarnya.
Saat ini, kolam renang di Stadion Palaran belum memenuhi seluruh standar nasional karena lebih cocok untuk cabang polo air dan loncat indah. Sementara kolam Stadion Segiri sudah dibongkar sebagai bagian dari penataan kawasan, sehingga Samarinda benar-benar tanpa fasilitas renang kompetitif.
Melihat situasi itu, urgensi pembangunan fasilitas baru tak bisa ditunda. Menurut Faisal, ada dua opsi yang tengah dikaji: renovasi besar di Palaran atau membangun kompleks baru di lokasi lain. Namun arahan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengerucut pada opsi kedua.
“Pak Gubernur mengarahkan agar kita membangun fasilitas kolam renang baru dan ini sedang kami tindak lanjuti. Semoga bisa segera terealisasi,” jelasnya.
Rencana pembangunan tidak hanya menghadirkan kolam renang berstandar nasional, tetapi juga pusat pelatihan terpadu untuk cabang olahraga akuatik—yang disiapkan sebagai lumbung prestasi menuju PON 2028.
“Kami ingin menyediakan fasilitas terbaik agar atlet bisa meraih prestasi puncak. Pembinaan atlet berpotensi emas juga akan terus diperkuat,” tegas Faisal.
Editor : RF
Penulis : Dani
