Timesnusantara.com – SAMARINDA – Peran generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan daerah tak bisa dipandang sebelah mata. Namun, potensi besar itu hanya akan maksimal bila dibarengi pembinaan yang konsisten dan ruang aktualisasi yang nyata.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, mengkritik model pembinaan kepemudaan yang selama ini cenderung musiman dan seremonial. Menurutnya, anak muda Samarinda punya energi, ide, dan kreativitas yang melimpah, tetapi kerap mentok karena tidak ada pendampingan berkelanjutan.
“Pembinaan pemuda itu bukan acara 17-an atau seminar setahun sekali. Kalau mau hasilnya nyata, programnya harus jalan terus, terukur, dan ada evaluasi. Jangan berhenti di spanduk dan foto-foto,” tegas Samri, Sabtu 14 Juni 2026.
Ia menilai, wadah positif seperti pelatihan kepemimpinan, inkubasi komunitas kreatif, kompetisi inovasi, hingga forum dialog kebijakan bisa jadi sarana pengembangan karakter sekaligus ajang unjuk kompetensi. Lewat kegiatan itu, generasi muda belajar mengambil peran, bukan sekadar jadi penonton pembangunan.
Samri juga mendorong peningkatan dukungan konkret untuk organisasi dan komunitas kepemudaan. Bentuknya tak melulu dana hibah, tetapi juga akses fasilitas, pendampingan, jejaring dengan dunia usaha, serta pelibatan langsung dalam perencanaan program pemerintah kota.
“Kalau kita mau Samarinda maju, investasinya ya di anak muda. Mereka yang nanti pegang kendali 10-20 tahun ke depan. Tugas kita sekarang menyiapkan mereka jadi generasi produktif, kritis, dan berdaya saing,” tambahnya.
DPRD Kota Samarinda, kata Samri, berkomitmen mengawal anggaran dan kebijakan yang berpihak pada penguatan ekosistem kepemudaan. Tujuannya jelas: mencetak pemimpin masa depan yang tak hanya cerdas, tapi juga peduli dan punya rekam jejak kontribusi di daerahnya.
Editor : RF
Sumber : A
