Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Infrastruktur olahraga di Kutai Timur perlahan dibenahi agar tidak sekadar berdiri sebagai bangunan, tetapi benar-benar hidup oleh aktivitas atlet dan masyarakat. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kutai Timur Basuki Isnawan menegaskan fasilitas yang telah tersedia harus dirawat dan dioptimalkan untuk mendukung pembinaan.

Basuki menyinggung kondisi sejumlah fasilitas yang menurutnya telah mengalami perubahan. Ia menilai pemeliharaan menjadi bagian penting agar ruang olahraga tetap layak dan dapat dipakai secara berkelanjutan.

“Lihat Stadion kudungga sekarang seperti apa. Rapi, bagus, dulu rumputnya naudzubillah. Sekarang bisa berjalan dengan baik,” kata Basuki saat diwawancarai di Kantor Dispora Kutim, Selasa (15/9/2026).

Ia juga menyebut Stadion Kudungga sebagai salah satu kawasan yang terus diupayakan agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas olahraga. Fasilitas tersebut tidak hanya dikaitkan dengan kegiatan resmi, tetapi juga menjadi ruang latihan bagi generasi muda.

“Dan ini bisa berjalan dengan baik. Stadion Kudungga bisa berjalan dengan baik, dan stadion bisa rapi, dan ini bisa kita lihat lah,” ujarnya.

Dalam konteks pembinaan sepak bola, Basuki menyebut aktivitas klub juga terus berlangsung. Ia mengatakan pemain Persegutim United yang berkompetisi pada jalur Liga 3 turut melakukan latihan.

“Nanti juga ada teman-teman dari Persikutim United yang Liga 3. Itu lagi latihan,” katanya.

Pemanfaatan fasilitas menjadi penting menjelang berbagai agenda olahraga. Dispora Kutim tidak hanya mempersiapkan peringatan Haornas 2026, tetapi juga mendukung pembinaan cabang olahraga menuju kompetisi yang lebih besar.

Haornas sendiri dijadwalkan berlangsung pada [18 September 2026] dan [19 September 2026]. Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari senam, pertandingan olahraga tradisional, pelayanan masyarakat hingga showcase komunitas dan organisasi olahraga.

Bagi Basuki, semangat berolahraga tidak seharusnya hanya muncul ketika terdapat peringatan nasional. Ia menekankan aktivitas masyarakat mesti berjalan sepanjang waktu dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

“Tanpa event olangraga pun kita tetap langsung tetap olahraga,” ujarnya.

Pembenahan fasilitas juga berkaitan dengan upaya menyediakan ruang positif bagi anak muda. Di kawasan Kudungga, misalnya, Dispora membuka kesempatan latihan bagi mereka yang memiliki minat pada balap dengan tetap menekankan penggunaan perlengkapan keselamatan.

Di kecamatan, strategi pemenuhan fasilitas dilakukan melalui kolaborasi dengan perusahaan. Basuki menyatakan pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri untuk menjangkau seluruh kebutuhan karena luasnya wilayah dan keterbatasan anggaran.

Ia pun aktif mengajak pelaku usaha mendukung sarana dan kegiatan olahraga. Menurutnya, pola kolaborasi telah membuahkan dukungan di sejumlah daerah, termasuk untuk sepak bola dan cabang lainnya.

Fasilitas yang terawat menjadi dasar bagi pembinaan jangka panjang. Atlet membutuhkan tempat latihan rutin, komunitas memerlukan ruang berkegiatan, sedangkan masyarakat membutuhkan fasilitas yang dapat digunakan untuk menjaga kebugaran.

Bagi Kutai Timur, keberadaan sarana yang hidup menjadi bagian penting dalam membangun budaya olahraga. Infrastruktur yang rapi, mudah dimanfaatkan dan memiliki agenda rutin akan memberi peluang lebih besar bagi lahirnya atlet sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.. (ADV/KUTIM).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *