Timesnusantara.com – KUTIM – Jejak perkembangan Islam di Kutai Timur mulai dirangkai agar tidak tercecer menjadi kepingan cerita tanpa catatan. Melalui penulisan buku “Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur”, pemerintah daerah berupaya menghimpun perjalanan Islam dengan menempatkan wilayah Kutai Timur sebagai bagian penting dalam narasi sejarahnya.
Kajian tersebut menjadi salah satu materi dalam Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah Swakelola Tipe II Kabupaten Kutai Timur yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur di Ruang Damar, Gedung Serba Guna Lantai 2, Bukit Pelangi, Selasa (22/9/2026).
Selain sejarah Islam, program penulisan juga mencakup buku mengenai kisah budaya, tradisi dan kehidupan di Kutai Timur serta sejarah dan perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Seminar laporan pendahuluan menjadi tahapan untuk memperoleh masukan sebelum kajian dilanjutkan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur Mulyono menilai penulisan sejarah Islam perlu menunjukkan secara jelas kaitannya dengan wilayah Kutai Timur. Hal tersebut diperlukan agar pembahasan tidak terlalu luas dan hanya menggambarkan sejarah Kutai secara umum tanpa menunjukkan posisi daerah yang menjadi objek kajian.
“Baik buku sejarah Islam atau sejarah kebudayaan itu maksud saya harus menyentuh salah satu dari wilayah kelima itu tadi. Karena itu kita berbicara wilayah Kutai Timur,” kata Mulyono di Lokasi, Selasa (22/9/2026).
Lima wilayah yang dimaksud adalah kecamatan yang menjadi bagian Kutai Timur pada awal pembentukan kabupaten, yakni Muara Ancalong, Muara Bengkal, Muara Wahau, Sangatta dan Sangkulirang. Menurut Mulyono, titik-titik tersebut dapat menjadi bagian penting dalam penelusuran untuk memperkuat konteks lokal.
Ia mencontohkan, apabila dalam proses penelitian ditemukan jejak awal di Sangkulirang atau Muara Ancalong, lokasi tersebut perlu ditampilkan secara jelas. Dengan demikian, pembaca dapat melihat hubungan antara temuan sejarah dengan wilayah Kabupaten Kutai Timur.
“Tapi mungkin, pertama kali ditemukan di Sangkulirang misalnya, atau di Muara Ancalong misalnya. Itu kan kelihatan, oh itu memang wilayah Kutai Timur. Itu sih yang saya inginkan,” ujarnya.
Mulyono menyadari materi yang diseminarkan masih berupa laporan pendahuluan. Karena itu, catatan dan masukan pada tahapan awal dapat digunakan untuk mempertajam arah penelitian serta memperluas penelusuran sumber.
Penulisan buku juga menjadi bagian dari upaya dokumentasi kebudayaan. Menurut Mulyono, buku memiliki keunggulan karena penyusunannya membutuhkan kajian dan penelusuran lapangan, sehingga informasi yang dihasilkan dapat disajikan secara lebih lengkap.
Hasil akhir buku sejarah Islam tersebut nantinya juga berpotensi menjadi bagian dari koleksi museum yang direncanakan pemerintah daerah. Dengan begitu, masyarakat memiliki sumber tertulis untuk memahami perjalanan Islam sekaligus konteks sosial dan kewilayahan yang menyertainya.
Melalui penelusuran yang lebih terarah, sejarah Islam di Kutai Timur diharapkan tidak berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut. Dokumentasi berbentuk buku diharapkan menjadi sumber pengetahuan yang dapat terus dibaca, diteliti dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (ADV/KUTIM).
Editor : RF
Sumber : ALW
