Timesnusantara.com – KUTIM – Harapan akan cahaya yang stabil di Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, masih dibayangi persoalan pasokan energi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan warga sempat lumpuh akibat tersambar petir. Kondisi itu memaksa pemerintah desa menyalakan genset agar rumah-rumah warga tidak tenggelam dalam gelap, sembari menyiapkan rencana sistem PLTS prabayar yang ditargetkan mulai dibangun pada 2027.
PLTS komunal di Pulau Miang telah beroperasi sejak 2017 dan menjadi salah satu sumber utama kebutuhan listrik masyarakat di wilayah tersebut. Namun, beberapa bulan terakhir sistem pembangkit mengalami gangguan serius setelah sambaran petir menyebabkan kerusakan total. Pemerintah Desa Pulau Miang kemudian mengambil langkah darurat dengan mengoperasikan genset untuk memastikan kebutuhan dasar penerangan masyarakat tetap terpenuhi.
“Tenaga listrik kita, PLTS kita ini tersambar petir. Akhirnya mati total. Maka kami berinisiatif, kepala desa dan teman-teman, kalau begitu kita hidupkan lampu. Kita biayai lampu kita, genset itu,” ujar Kepala Desa Pulau Miang Alimuddin saat diwawancarai di Kantor DPRD Kutim, Selasa (22/9/2026) kemaren)
Alimuddin menjelaskan penggunaan genset memang menjadi solusi tercepat ketika PLTS tidak dapat berfungsi. Akan tetapi, langkah tersebut membawa konsekuensi besar terhadap keuangan desa karena kebutuhan bahan bakar untuk menjalankan pembangkit cadangan itu mencapai sekitar Rp29 juta setiap bulan.
Untuk menanggung biaya operasional tersebut, pemerintah desa melakukan koordinasi bersama masyarakat sekaligus memanfaatkan Alokasi Dana Desa (ADD). Kebijakan itu ditempuh agar layanan kelistrikan tetap berjalan sambil menunggu kondisi PLTS kembali normal. Besarnya biaya operasional genset menjadi salah satu alasan pemerintah desa membutuhkan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Upaya pemulihan PLTS sebenarnya telah dilakukan dengan mendatangkan tenaga teknis khusus dari Riau. Setelah menjalani perbaikan, pembangkit tenaga surya tersebut dapat kembali beroperasi. Meski demikian, kinerjanya belum sepenuhnya stabil karena masih sangat dipengaruhi kondisi cuaca di Pulau Miang.
Kabut tebal menjadi salah satu kendala yang dapat mengurangi kemampuan panel surya menyerap energi matahari. Kondisi tersebut pernah menyebabkan sistem pembangkit kembali tidak berfungsi selama sekitar tiga hari. Ketergantungan terhadap intensitas sinar matahari membuat ketersediaan listrik bagi masyarakat belum sepenuhnya dapat dipastikan setiap waktu.
Situasi itu mendorong Pemerintah Desa Pulau Miang mencari alternatif yang lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan energi warga dalam jangka panjang. Bersama Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi, pemerintah desa telah melakukan audiensi di Jakarta untuk membahas pengembangan sistem PLTS prabayar bagi Pulau Miang.
Pertemuan tersebut juga membicarakan persoalan kelistrikan dan peluang dukungan pembangunan dari pemerintah pusat. Dari pembahasan itu, muncul peluang agar pembangunan sistem kelistrikan berbasis PLTS prabayar dapat direalisasikan paling lambat pada 2027.
Namun, kesiapan lahan menjadi salah satu syarat penting sebelum proyek tersebut dapat dilaksanakan. Pemerintah desa perlu memastikan tanah yang akan digunakan untuk pembangunan fasilitas telah tersedia sehingga tahapan pembangunan tidak terhambat oleh persoalan administrasi maupun lokasi.
“Kalau itu sudah siap tanahnya, insyaallah dari kementerian ini akan membangun secepatnya, paling tidak tahun 2027 ini,” jelas Alimuddin.
Rencana PLTS prabayar diharapkan dapat memberikan pola pengelolaan listrik yang lebih mandiri sekaligus meningkatkan keandalan pasokan energi bagi masyarakat Pulau Miang. Sistem tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap genset yang membutuhkan biaya bahan bakar cukup besar setiap bulan.
Keberadaan listrik yang stabil mempunyai peran penting bagi masyarakat kepulauan, bukan hanya untuk kebutuhan penerangan rumah tangga. Pasokan energi juga dibutuhkan untuk menunjang kegiatan ekonomi, pelayanan pemerintahan, pendidikan, komunikasi, hingga berbagai aktivitas masyarakat sehari-hari.
Pengalaman kerusakan akibat sambaran petir serta gangguan produksi listrik akibat cuaca menjadi evaluasi bagi pemerintah desa dalam mengembangkan sistem energi yang lebih tahan terhadap berbagai kondisi. Langkah menuju pembangunan PLTS prabayar pada 2027 pun menjadi bagian dari upaya mencari solusi permanen atas keterbatasan pasokan listrik di Pulau Miang.
Pemerintah Desa Pulau Miang berharap persiapan lahan dan koordinasi dengan pemerintah terkait dapat segera diselesaikan. Dengan terealisasinya pembangunan PLTS prabayar, masyarakat diharapkan memperoleh pasokan listrik yang lebih andal, berkelanjutan, sekaligus mengurangi beban anggaran desa yang selama ini harus digunakan untuk membiayai operasional genset. (ADV/KUTIM).
Editor : RF
Sumber : ALW
